RSS

Telaga Sangiang


A
dik- adik, dahulu kala ada seorang gadis yang cantik dan memiliki rambut yang sangat panjang. Gadis tersebut bernama Landorundun. Pada suatu hari, Landorundun pergi mandi di sungai Sa’dan di dekat Rantepao ( Toraja bagian Utara ). Setelah selesai mandi, ia naik ke atas sebuah batu besar yang ada di tengah sungai. Ia menjemur badan sambil menyisir rambutnya yang sangat panjang. Rambutnya rontok, tidak ia buang melainkan ia gulung dan diletakkan di atas batu. Tiba- tiba air sedikit meluap ke atas batu dan rambut Landorundun yang rontok dan telah digulung terbaa air. Ia berusaha meraih rambut itu namun karena derasnya air sungai, rambut itu tidak bisa ia dapatkan. Landorandun sangat kecewa dan sedih.

Suatu ketika, seorang nelayan Bugis namanya Beddurana sedang bersantai di atas perahu kayunya di tepi pantai. Saat itu, Beddurana melihat ada benda aneh di tengah laut. Beddurana kaget karena benda itu meski sangat kecil namun kilauannya dapat dilihat dari jarak yang sangat jauh dari pantai. Ia sangat tertarik terhadap benda aneh itu, lalu menyuruh ketiga anak buahnya yang sakti- sakti untuk mengambil benda tersebut. Namun apa yang terjadi, ketiga anak buahnya tidak dapat mengambil benda itu.
Beddurana heran dan kesal dengan kejadian ini. Maka ia sendirian langsung mengambil benda tersebut. Pada saat Beddurana akan mengambil, terjadi keajaiban, ia bisa berjalan di atas air dan kakinya sama sekali tidak basah. Benda itu berhasil diraihnya, dan setelah di bawa ke pantai dan diamati baik-baik, ternyata benda itu adalah gulungan rambut wanita yang sangat panjang. Beddurana melilitkan rambut tersebut di badannya. Setelah sampai lilitan ke tujuh, rambut tersebut masih tersisa tujuh depa dan sepuluh jengkal. Beddurana sangat heran menyaksikan rambut sepanjang itu.

Adik-adik, dalam keadaan heran Bedurana menengadah ke langit. Tiba- tiba di balik awan, muncullah serombongan burung Kalupppini ( Walet ). Beddurana mengamati burung- burung tersebut dan saat itu burung- burung memberi petunjuk kepada Beddurana akan pemilik rambut panjang yang ajaib itu. Burung- burung itu terbang menuju utara sambil menyusur Sungai Sa’dan. Beddurana yang telah mendapat petunjuk, ikut menuju utara dengan perahu kayunya. Berhari- hari burung itu bersama Beddurana menyusuri sungai. Menjelang hulu sungai Beddurana kehilangan jejak sebab burung- burunng itu terbang lebih cepat. Namun burung-burung itu menghampiri Beddurana  dan kembali memberi petunjuk. Setelah sampai di Tikala, ia menyandarkan perahunya dan menanam sebuah pohon mangga.

Sesudah itu, Beddurana melanjutkan perjalanan sampai  di sebuah tempat namanya “Bubun Batu” (Sumur Batu ).Di tempat itu Beddurana berjumpa dengan Landorundun. Dalam perjumpaan itu Landorundun bertanya “Apa gerangan yang mendorong kamu berlayar sampai di sini ? Adakah engkaku memmberi piutang dan sekarang datang menagih?
Lalu Beddurana menjawab,” Saya tidak berpiutang, pada siapapun. Aku kemari hendak menyampaikan rambut ajaib milik sang putrid. Aku terkesan, aku tertarik hendak mempersunting sang bidadari.”
Dan Lansdorundun berkata,”Tiada guna, tiada manfaat kau mendekati aku! Ibu belum rela aku meninggalkan negeri ini. Berpisah menuju Negeri Bone asal-usulmu!

Setelah mendengar jawaban itu, Beddurana sangat kecewa berat. Lalu ia turun dari perahu dan pergi menanam mangga ajaib di dekat tempat tinggal Landorundun. Mangga itu dalam beberapa hari saja sudah berbuah lebat. Suatu hari Landorundun hendak turun sungai untuk mandi. Saat itu Landorundun tergiur melihat mangga Beddurana yang sudah mulai masak. Landorundun tidak menyangka jika diintip Beddurana. Tidak lama setelah Landorundun mengambil buah mangga itu, tiba- tiba Beddurana muncul di dekat pohon mangga dan berpura-pura menghitung buah mangganya.
Lalu ia menyindir Landorundung yang telah memetik buah mangganya tetapi Landorundun menyangkal dan berkata bahwa mangga tersebut disantap penggembala dan di makan binatang malam. Mendengar jawaban Landorundun, Beddurana mengumpulkan dan menanyakan ke anak gembala “kami tidak mengambil mangga, Tuan ! Tanyalah pada perempuan itu. Dia baru saja kami lihat memetik beberapa buah,” jawab anak gembala itu.

Setelah mendengar kesaksian anak gembala itu akhirnya Landorundun mengaku. “Akulah yang sebenarnya mengambil mangga itu, karena itu terserah padamu hukuman apa yang harus aku terima.”
“Aku tidak akan menghukum, tetapi aku harapkan hari ini kita berangkat ke Bone, negeri asal-usulku. Kau akan saya jadikan istri”.
Karena Beddurana sudah tahu, Landorundun tidak mungkin berangkat bila diketahui orang tuanya, maka ia memperdaya Ibu Landorundun. Ia memainkan alat music kecapi yang dibawanya dari negeri Bugis sambil bernyanyi merdu. Saat mendengar bunyi kecapi itu, Ibu Landorundun tertidur pulas. Saat itulah, Beddurana berhasil melarikan Landorundun.

Saat ibu Landorundun terbangun, ia baru sadar kalau telah diperdaya Beddurana. Landorundun telah menghilang. Ibu itu hanya pasrah pada Yang Maha Kuasa. Ia tidak mungkin lagi mengejar Putri kesayanganya. Ia hanya berdoa, mudah-mudahan anaknya selamat dan kelak bisa kembali dalam keadaan sehat. Sesampainya di Bone, Landorundun selalu merenung dan ingin kembali ke Toraja. Sampai di pernikahan,Landorundun kelihatan murung terus. Untuk itulah penduduk setempat berusaha membuat ulah dengan membawa seekor burung gagak ke halaman rumah. Burung gagak itu jalannya pincang sebab kakinya telah dipotong.

Melihat peristiwa itu kemudian Landorundun tertawa kegirangan. Mulai saat itulah, Landorundun merasa bahagia hidup di negeri orang bersama Beddurana suaminya. Ia pun membawa ibunya ke negeri Bone.Di sana Ibu Landorundun merasa berbahagia pula sebab diterima dengan sangat baik oleh keluarga Beddurana. Mulai saat itu, terjadi hubungan yang sangat harmonis antara keluarga Beddurana dan keluarha Landorundun di Toraja.

K
egigihan dan ketekunan dalam mempertahankan  cinta  Beddurana terhadap isterinya Landorundun  sangat luar biasa. Hasilnya adalah kedua belah pihak keluarga menjadi harmonis. Adik- adik, semoga ayah dan ibumu menjadi orang tua yang menjadi teladan ya.



LANDORUNDUN


A
dik- adik, dahulu kala ada seorang gadis yang cantik dan memiliki rambut yang sangat panjang. Gadis tersebut bernama Landorundun. Pada suatu hari, Landorundun pergi mandi di sungai Sa’dan di dekat Rantepao ( Toraja bagian Utara ). Setelah selesai mandi, ia naik ke atas sebuah batu besar yang ada di tengah sungai. Ia menjemur badan sambil menyisir rambutnya yang sangat panjang. Rambutnya rontok, tidak ia buang melainkan ia gulung dan diletakkan di atas batu. Tiba- tiba air sedikit meluap ke atas batu dan rambut Landorundun yang rontok dan telah digulung terbaa air. Ia berusaha meraih rambut itu namun karena derasnya air sungai, rambut itu tidak bisa ia dapatkan. Landorandun sangat kecewa dan sedih.

Suatu ketika, seorang nelayan Bugis namanya Beddurana sedang bersantai di atas perahu kayunya di tepi pantai. Saat itu, Beddurana melihat ada benda aneh di tengah laut. Beddurana kaget karena benda itu meski sangat kecil namun kilauannya dapat dilihat dari jarak yang sangat jauh dari pantai. Ia sangat tertarik terhadap benda aneh itu, lalu menyuruh ketiga anak buahnya yang sakti- sakti untuk mengambil benda tersebut. Namun apa yang terjadi, ketiga anak buahnya tidak dapat mengambil benda itu.
Beddurana heran dan kesal dengan kejadian ini. Maka ia sendirian langsung mengambil benda tersebut. Pada saat Beddurana akan mengambil, terjadi keajaiban, ia bisa berjalan di atas air dan kakinya sama sekali tidak basah. Benda itu berhasil diraihnya, dan setelah di bawa ke pantai dan diamati baik-baik, ternyata benda itu adalah gulungan rambut wanita yang sangat panjang. Beddurana melilitkan rambut tersebut di badannya. Setelah sampai lilitan ke tujuh, rambut tersebut masih tersisa tujuh depa dan sepuluh jengkal. Beddurana sangat heran menyaksikan rambut sepanjang itu.

Adik-adik, dalam keadaan heran Bedurana menengadah ke langit. Tiba- tiba di balik awan, muncullah serombongan burung Kalupppini ( Walet ). Beddurana mengamati burung- burung tersebut dan saat itu burung- burung memberi petunjuk kepada Beddurana akan pemilik rambut panjang yang ajaib itu. Burung- burung itu terbang menuju utara sambil menyusur Sungai Sa’dan. Beddurana yang telah mendapat petunjuk, ikut menuju utara dengan perahu kayunya. Berhari- hari burung itu bersama Beddurana menyusuri sungai. Menjelang hulu sungai Beddurana kehilangan jejak sebab burung- burunng itu terbang lebih cepat. Namun burung-burung itu menghampiri Beddurana  dan kembali memberi petunjuk. Setelah sampai di Tikala, ia menyandarkan perahunya dan menanam sebuah pohon mangga.

Sesudah itu, Beddurana melanjutkan perjalanan sampai  di sebuah tempat namanya “Bubun Batu” (Sumur Batu ).Di tempat itu Beddurana berjumpa dengan Landorundun. Dalam perjumpaan itu Landorundun bertanya “Apa gerangan yang mendorong kamu berlayar sampai di sini ? Adakah engkaku memmberi piutang dan sekarang datang menagih?
Lalu Beddurana menjawab,” Saya tidak berpiutang, pada siapapun. Aku kemari hendak menyampaikan rambut ajaib milik sang putrid. Aku terkesan, aku tertarik hendak mempersunting sang bidadari.”
Dan Lansdorundun berkata,”Tiada guna, tiada manfaat kau mendekati aku! Ibu belum rela aku meninggalkan negeri ini. Berpisah menuju Negeri Bone asal-usulmu!

Setelah mendengar jawaban itu, Beddurana sangat kecewa berat. Lalu ia turun dari perahu dan pergi menanam mangga ajaib di dekat tempat tinggal Landorundun. Mangga itu dalam beberapa hari saja sudah berbuah lebat. Suatu hari Landorundun hendak turun sungai untuk mandi. Saat itu Landorundun tergiur melihat mangga Beddurana yang sudah mulai masak. Landorundun tidak menyangka jika diintip Beddurana. Tidak lama setelah Landorundun mengambil buah mangga itu, tiba- tiba Beddurana muncul di dekat pohon mangga dan berpura-pura menghitung buah mangganya.
Lalu ia menyindir Landorundung yang telah memetik buah mangganya tetapi Landorundun menyangkal dan berkata bahwa mangga tersebut disantap penggembala dan di makan binatang malam. Mendengar jawaban Landorundun, Beddurana mengumpulkan dan menanyakan ke anak gembala “kami tidak mengambil mangga, Tuan ! Tanyalah pada perempuan itu. Dia baru saja kami lihat memetik beberapa buah,” jawab anak gembala itu.

Setelah mendengar kesaksian anak gembala itu akhirnya Landorundun mengaku. “Akulah yang sebenarnya mengambil mangga itu, karena itu terserah padamu hukuman apa yang harus aku terima.”
“Aku tidak akan menghukum, tetapi aku harapkan hari ini kita berangkat ke Bone, negeri asal-usulku. Kau akan saya jadikan istri”.
Karena Beddurana sudah tahu, Landorundun tidak mungkin berangkat bila diketahui orang tuanya, maka ia memperdaya Ibu Landorundun. Ia memainkan alat music kecapi yang dibawanya dari negeri Bugis sambil bernyanyi merdu. Saat mendengar bunyi kecapi itu, Ibu Landorundun tertidur pulas. Saat itulah, Beddurana berhasil melarikan Landorundun.

Saat ibu Landorundun terbangun, ia baru sadar kalau telah diperdaya Beddurana. Landorundun telah menghilang. Ibu itu hanya pasrah pada Yang Maha Kuasa. Ia tidak mungkin lagi mengejar Putri kesayanganya. Ia hanya berdoa, mudah-mudahan anaknya selamat dan kelak bisa kembali dalam keadaan sehat. Sesampainya di Bone, Landorundun selalu merenung dan ingin kembali ke Toraja. Sampai di pernikahan,Landorundun kelihatan murung terus. Untuk itulah penduduk setempat berusaha membuat ulah dengan membawa seekor burung gagak ke halaman rumah. Burung gagak itu jalannya pincang sebab kakinya telah dipotong.

Melihat peristiwa itu kemudian Landorundun tertawa kegirangan. Mulai saat itulah, Landorundun merasa bahagia hidup di negeri orang bersama Beddurana suaminya. Ia pun membawa ibunya ke negeri Bone.Di sana Ibu Landorundun merasa berbahagia pula sebab diterima dengan sangat baik oleh keluarga Beddurana. Mulai saat itu, terjadi hubungan yang sangat harmonis antara keluarga Beddurana dan keluarha Landorundun di Toraja.

K
egigihan dan ketekunan dalam mempertahankan  cinta  Beddurana terhadap isterinya Landorundun  sangat luar biasa. Hasilnya adalah kedua belah pihak keluarga menjadi harmonis. Adik- adik, semoga ayah dan ibumu menjadi orang tua yang menjadi teladan ya.



Rara Jonggrang


A
dik- adik, pada jaman dahulu hiduplah seorang pemuda Kerajaan Pengging yang bernama Jaka Bandung yang sedang berusaha mencari ayahnya. Ia tidak percaya dengan penjelasan ibunya bahwa ayahnya sedang berniaga. Keinginan yang kuat dari Jaka Bandung untuk bertemu ayahnya itulah yang menyebabkan  ia meninggalkan ibunya  untuk mengembara mencari ayahnya. Di tengah perjalanan ia dihadang gerombolan perampok di bawah pimpinan Bandawasa.
“Serahkan harta atau nyawa !” gertak Bandawasa kepada Bandung. Akhirnya terjadilah perkelahian sengit diantara keduanya.

Banduwasa menderita kekalahan. Dan untuk menutupi kekalahannya itu Bandawasa menjadi pertapa tanpa nama. Sejak saat itu Jaka Bandung bertambah nama menjadi Bandung Bandawasa.melanjutkan perjalanan kembali mencari ayahnya. Pada suatu hari ia tiba di wilayah Kerajaan Prambanan. Betapa terkejutnya ia, melihat pertempuran seru antara pasukan Pengging melawan Pasukan Prambanan. Ia kagum melihat dua orang anak laki- laki  mengadu kesaktian yang dia miliki. Salah satu dari laki-laki tersebut terdesak, sehingga Bandung Bandung Bandawasa turun ke gelanggang untuk membelanya.
“Aku harus membela anak yang kalah itu,” gumamnya. Bandung Bandawasa yakin bahwa lelaki yang yang kewalahan itu adalah ayahnya sendiri.

Bandung Bandawasa langsung terjun ke gelanggang pertempuran. Ia dapat mengalahkan lelaki sakti yang menjadi musuhnya. Namun ternyata lelaki sakti tersebut adalah ayahnya sendiri yang bernama Damarjaya.  Bandung Bandawasa segera melepaskan Damarmaya, lalu mereka saling melepas rindu. Sementara itu Prabu Baka Raja Prambanan yang merupakan musuh Damarmaya sekarang menghadapi Bandung Bandawasa.
“Aku akan membunuhmu !” teriak Bandung Bandawasa. Maka terjadilah pertarungan seru antara Bandung Bandawasa dengan Prabu Baka. Akhirnya Prabu Baka tewas di medan pertempuran.
Damarmaya dan pasukannya beserta harta rampasan dari Kerajaan Prambanan diboyong ke Kerajaan Pengging. Namun Bandung Bandawasa tidak ikut kembali ke Pengging. Ini dikarenakan Bandung Bandawasa jatuh cinta kepada Permaisuri Kerajaan Prambanan yang bernama Rara Jonggrang.
“Mungkin Raden keliru, Raden pasti mencintai putriku Nawangsih,” rajuk Rara Jonggrang menolak cinta Bandung Bandawasa dengan halus.

Ternyata Bandung Bandawasa tidak mau menerima putrid Nawangsih yang masih muda, cintanya tertuang untuk Rara Jonggrang yang pantas menjadi ibunya. Rara Jongrangpun kebingungan. Maka dipanggilah Biyung Emban untuk menghadap.
“Masih ingatkah kamu bagaimana kakanda Prabu Baka gugur? Lalu sekarang, aku mau dijadikan putrid boyongan tetapi aku tidak bersedia itu demi kehormatan dan martabat Takhta Prambanan,” ungkap Rara Jonggrang. Biyung Emban mengangguk tanda setuju.
“Bagaimana jawabanmu ?” tanya Bandung Bandawasa yang menginginkan jawaban pasti Rara Jonggrang. Namun Rara Jonggrang tetap pada pendiriannya. Demi martabat dan kehormatan Takhta Prambanan Rara Jonggrang tetap menawarkan Putrei Nawangsih yang lebih cocok mendampingi Raden Bandung Bandawasa. Tetapi Raden Bandung Bandawasa tetap menolak.
Karena kehabisan akal untuk menolaj cinta Bandung Bandawasa, akhirnya Rara Jonggrang mengajukan satu permintaan, apabila Bandung Bandawasa dapat membuatkan sebuah candi megah, terhias seribu buah arca indah dan selesai sebelum ayam berkokok atau sebelum fajar menyingsing, dia bersedia menjadi istri Bandung Bandawasa.

Tanpa pikir panjang Bandung Bandawasa menyanggupi permintaan itu. Setelah senja menghilang, ia mencari tanaj yang datar dan lapang. Lalu ia duduk bersila dan membaca mantra memanggil roh halus untuk membantunya.
“Para nakhluk gaib dan penjaga bumi, bantulah aku. Tolong buatkan sebuah candi megah dan seribu arca yang indah, hendaknya sudah selesai sebelum fajar menyingsing,”pinta Bandung Bandawasa dalam semedinya. Sementara itu Rara Jonggrang sudah mengatur siasat bersama para Abdi dan Emban untuk menggagalkan usaha Bandung Bandawasa.

“Lakukanlah tugas kalian masing- masing sekarang juga,”perintah Rara Jonggrang kepada para Abdi dan Emban. Mereka segera menumbuk padi di lesung dna menjajarkan batang-batang padi kering lalu membakarnya. Segeralah ayam jantan berkokok bersahut-sahutan yang mengira fajar telah menyingsing.
“Fajar, Fajar !” teriak para Abdi dan Emban. Raden Bandung Bandawasa sangat terkejut mendengar teriakan itu. Ia lalu memerikasa candi. Ternyata masih banyak batu yang berserakan.Candi dan arca belum selesai, tetapi para makhluk gaib sudah kembali ke tempatnya masing- masing, karena takut melihat di sebelah timur fajar sudah mulai menyingsing. Raden Bandung Bandawasa  yang mengetahui dirinya telah dikelabui, meluapkan kemarahannya yang luar biasa.
“Perbuatan ini harus dibalas!” geram Bandung Bandawasa.

Bandung Bandwasa bersemedi memohon kepada Sang Dewata agar tubuh Rara Jonggrang dan Rara Nawangsih diubah menjadi arca, untuk menambah keindahan candi. Permohonan Bandung Bandawasa terkabul, Rara Jonggrang dan Putrinya Rara Nawansih berubah menjadi arca.
“Raden, ampunilah junjungan kami supaya hidup kembali,”rintih para Emban kepada Bandung Bandawasa yang memohon agar junjungan mereka dibebaskan. Tetapi hati Bandung Bandawasa tak tergoyah sedikitpun. Rara Jonggrang dan Rara Nawangsih tetap membantu menjadi arca.

K
ecantikan memang selalu didambakan oleh seseorang.Namun kecantikan yang disertai sifat pengkhianatan tidak perlu dicontoh. Demikian adik- adik kisah dari Jawa Tengah ini. Sampai jumpa dicerita selanjutnya.

Asal Usul Gunung Batok


A
dik- adik, konon pada jaman dahulu, di wilayah Gunung Bromo tinggallah penduduk
keturunann Raja dari Kerajaan Majapahit. Waktu itu, seorang bayi  melahirkan bayi perempuan yang cantik jelita, berasal dari titisan seorang Dewi. Bayi perempuan itu tdan tenang dan tidak pernah menangis. Ia diberi nama , Rara Anteng. Pada saat bersamaan, istri seorang pendeta melahirkan bayi laki- laki tampan, kuat , tangisannya kencang. Ia diberi Jaka Seger.
Tahun demi tahun, Rara Anteng semakin dewasa dan semakin cantik. Demikian pula Jaka Seger, tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan gagah perkasa. Mereka sering bertemu dan saling menaruh hati. Namun banyak pemuda yang terpikat dengan kecantikan Rara Anteng. Begitu pula Jaka Seger menjadi pria idaman dari setiap gadis.
“Aku tidak ingin berpisah denganmu, Kanda Jaka Seger,” kata Rara Anteng dengan manja.
“Aku sangat mencintaimu, Dinda  Rara Anteng,” ungkap Jaka Seger dengan mantap.

Jalinan kasih Jaka Seger dan Rara Anteng semakin intim. Mereka berjanji tidak mau dipisahkan oleh siapapun. Pada suatu hari, mereka dikejuttkan dengan kedatangan seorang perampok sakti dan bengis yang ingin meminang Rara Anteng. Ternyata, Rara Anteng tidak berani menolaknya. Namun, dengan syarat yang harus dipenuhi perampok sakti itu.
“Aku bersedia menjadi istrimu, asal kau dapat membuatkan sebuah lautan yang terletak di puncak Gunung Bromo dan harus selesai dalam satu malam,” kata Rara Anteng dengan tenang. Perampok sakti itu menyanggupi dan ingin segera mewujudkan permintaan Rara Anteng.

Perampok sakti itu segera meninggalkan Rara Anteng, lalu mencari tanah datar dan ia segera duduk bersila dan tangannnya menengadah ke atas untuk minta bantuan para makhluk halus penghuni Gunung Bromo. Pada saat matahari tenggelam dan hari mulai gelap,  perampok sakti berubah wujud menjadi raksasa yang menakutkan. Saat itu pula, ia segera mengeruk tanah itu dengan sebuah tempurung kelapa. Sebelum fajar menyingsing dan sebelum ayam jantan berkokok, lautan itu hampir jadi.

“Sebentar lagi, aku mempunyai istri yang cantik,” gumam perampok sakti itu penuh harap. Pada saat perampok sakti  hampir menyelesaikan pekerjaan membuat lautan di tengah malam, Rara Anteng memanggil Biyung Emban untuk bertindak. Diceritakan, bahwa sehari sebelumnya para Biyung Emban telah mempersiapkan tumpukan besar daun ilalang kering a di sebelah timur Gunung Bromo dan beberapa lesung serta Antan.
“Nyalakan tumpukan ilalang kering dan bunyikan lesung terus- menerus,” perintah Rara Anteng kepada Biyung Emban. Dengan cepat tumpukan ilalang kering menyala besar, tampak dari kejauhan seolah-olah fajar sudah menyingsing. Bunyi lesung bertalu- talu dan ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. “Hei, aneh sekali. Tengah malam begini, fajar telah menyingsing, bunyi lesung bertalu-talu dan ayam jantan berkokok bersahutan,” gumam seorang penduduk desa keluar rumah sambil berselimut kain sarung.
Namun karena hawa dingin pegunungan menusuk sampai tulang, segeralah ia masuk rumah dan tidur lagi. Ternyata seluruh penduduk desa mengalami kejadian serupa. Mereka terheran- heran mengalami kejadian malam itu yang tidak seperti malam biasanya.

Saat itu pula, perampok sakti tersentak melihat fajar telah menyingsing dan ayam jantan berkokok. Ia langsung berhenti bekerja. Hatinya kesal dan kecewa. Padahal, beberapa saat lagi lautan sudah jadi dan dapat ditunjukkan kepada Rara Anteng.
“Keparat ! Rara Anteng batal menjadi istriku ! Ia sangat licik!” seri perampok sakti gamang.
“Hah! Tempurung ini tidak ada gunanya !” teriak peamok sakti sambil melemparkan tempurung kelapa ditangannya. Dan ia segera meninggalkan lautan yang belum jadi. “Ajaib” Tempurung kelapa melayang beberapa saat dan jatuh tengkurap. Perlahan- lahan tempurung itu membesar dan menjelma menjadi sebuah gunung. Karena gunung itu berasal dari tempurung (batok), maka orang memberi nama Gunung Batok. Sedangkan lautan yang belum berair itu disebut Segoro Wedi atau Lautan Pasir.

Rara Anteng sangat bersuka ria dapat menggagalkan niat perampok sakti dan bengis itu, meskipun dengan cara yang licik. Tak lupa, ia mengucapkan terima kasih kepada para Biyung Emban yang telah membantunya dengan sekuat tenaga.
Dengan demikian, tiada halangan bagi Rara Anteng untuk menjalin hubungan dengan Jaka Seger. Hari perkawinan yang telah ditentukan tiba saatnya, dan upacara perkawinan berlangsung dengan meriah. Jaka Seger tampil bagaikan sutra mahkota Raja yang tampan dan agung. Sedangkan Rara Anteng bagaikan seorang putri raja yang cantik jelita.

Setelah itu mereka membangun tempat tinggal di sebuah desa yang aman dan damai. Desa itu dinamai Tengger. “Teng” diambil dari nama Rara Anteng, dan diletakkan  di depan nama desa karena Rara Anteng, dan diletakkan di depan nama desa karena Rara Anteng  adalah keturunan seorang Dewi. “Ger” berasal dari Jaka Seger dan diletakkan di belakang nama desa, karena ia hanya keturunan seorang pendeta. Akhirnya, mereka mempunyai banyak keturunan. Dan sampai saat ini penghuni desa Tengger dikenal dengan suku Tengger.

K
esulitan adalah awal dari keberhasilan. Bila kita menghadapi kesulitan, hendaklah jangan berputus asa. Karena bila kesulitan itu dapat diatasi, maka keberhasilan yang diidam-idamkan dapat kita raih betapapun melalui pengorbanan.




Putri Nilarani


D
ahulu kala di Propinsi Jawa Barat ada sebuah negeri bernama Kerajaan Pasir Batang. Rajanya bernama Marundata. Ia mempunyai seorang putrid cantik bernama Nilarani. Ada sebuah peristiwa aneh yang menimpa keluarga raja. Putri Nilarani hilang tanpa meninggalkan jejak. Sejak itu seluruh penghuni Istana Kerajaan menjadi risau. Raja Marundata mengerahkan seluruh prajurit untuk mencari Putri Nilarani tetapi hasilnya nihil. Untuk itu, Raja Marundata mengadakan sayembara.
“Barang siapa yang dapat menemukan Putri Nilarani. Kalau dia laki- laki, akan dinikahkan dengan putrid. Kalau dia wanita, akan diangkat sebagai saudara dan dihargai seperti layaknya seorang Puteri Kerajaan. “

Setelah sayembara diumumkan, maka berdatanganlah para kesatria dari berbagai kerajaan. Ada seorang Putera MAhkota Kerajaan Gantar Buana bernama Pangeran Sumirat. Ia tampan dan gagah perkasa. Ia merasa sedih mendengar nasib Putri Nilarani. Betapapu ia tidak mengikuti sayembara, namun berusaha menemukan sang Putri.
Pangeran Sumirat beserta Ki Bela seorang abdi setianya meninggalkan Kerajaan Gantar Buana mencari Putri Nilarani. Pada suatu hari, mereka tiba di sebuah kampong termasuk wilayah Kerajaan Pasir Batang.
“Hari sudah gelap, hamba mohon agar tuan- tuan jangan meneruskan perjalanan. Sebab di daerah ini tidak aman. Gerombolan perampok selalu mengancam penduduk desa,” kata seorang penduduk. Dijelaskan pula bahwa pemimpin gerombolan perampok bernama  Bardata.

Pangeran Sumirat dan Ki Bela mengikuti permintaan penduduk desa itu. Lalu mencari penginapan. Ketika hendak memasuki sebuah penginapan, seorang lelaki berwajah buruk menghadangnya.
“Harta atau nyawa! Bentak lelaki berwajah buruk itu. Dialah Bardata. Melihat gelagat yang kurang mengungkan itu, Pangeran Sumirat dan Ki Bela mengambil sikap waspada. Dalam sekejap Pangeran Sumirat dna Ki Bela dikepung oleh puluhan lelaki ganas dan bersenjata. Mereka anak buah Bardata.
“Kalian tak mungkin keluar dari sarangku!” ancam Bardata.
“Cepat bereskan!” tambahnya.
Terjadilah pertarungan seru.

Pangeran Sumirat adalah Putra Mahkota Raja. Ia telah digembleng dengan berbagai ilmu kesaktian. Demikian pula Ki Bela. Ia bukan sembarang abdi. Ilmu bela diri dan ilmu perangnya cukup hebat, walaupun tak sehebat Pangeran Sumirat.
“Cincang kedua orang itu !”teriak anak buah Bardata. Menerima serangan dari puluhan anak buah Bardata,Pangeran Sumirat  dan Ki Bela mengamuk bagai benteng terluka. Haya dalam tempo singkat, puluhan anak buah BArdata terkapar. Melihat keadaan itu Bardata menggigil ketakutan. Ia pun melarikan diri. Namun, dihadang Ki Bela. Terjadilah pergumulan seru. Tendangan maut Ki Bela berhasil menghentikan perlawanan Bardata. Bardata tewas. Penduduk desa mengucapkan terima kasih atas jasa Pangeran Sumirat dan Ki Bela yang telah membunuh perampok yang sangat ditakuti itu.

Pagi hari sekali, Pangeran Sumirat dan Ki Bela melanjutkan perjalanan. Mereka tiba desa Banyubiru. Kebetulan hari itu hari pasar. Pandangan mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis berkulit hitam legam sedang membeli ramuan di sebuah kios.
“Kalau kulitnya tidak hitam legam, dia sebenarnya gadis cantik. Hem, mari kita selidiki siapa dia sebenarnya,” kata Pangeran Sumirat kepada Ki Bela. Merasa ada yang memperhatikan dengan berlebihan, gadis hitam legam itu segera meninggalkan kios. Pangeran Sumirat dan Ki Bela sangat berhati – hati mengikuti perjalanan gadis hitam legam itu.
Gadis hitam legam itu tiba di sebuah gubuk. Pangeran Sumirat dan Ki Bela mengendap- endap mengintai apa yang terjadi di dalam gubuk.
“Kau telah melaksanakan tugas dengan baik,” kata seorang Nenek keriput yang berwajah seperti tengkorak. Dialah dikenal dengan sebutan Nenek Sihir. 
Adik- adik, ternyata dia yang menculik Putri Nilarani, karena Raja Marundata telah nyaris membinasakan cucunya bernama Duruwiksa. Adapun ramuan obat akan digunakan untuk mengobati luka- luka cucunya itu.
Tidak beberapa lama kemudian, datanglah seorang laki- laki bertampang garang. Ia segera memberitahukan bahwa para pengikut sayembara yang diadakan Raja Marundata diikuti oleh para kesatria sakti dari berbagai kerajaan.
“Persetan dengan mereka!” kata Nenek Sihir itu.
“Kau tidak usah kuatir, pasti Nilarani tidak akan ditemukan!”lanjutnya.
Dijelaskan pula bahwa Putri Nilarani, kulitnya tetap hitam legam. Kecuali dia minum eamuan dari dalam kendi yang disimpan  rak paling atas di dalam ruangan itu.

“Sekarang saatnya kita menolong gadis hitam legam itu ternyata putrid NIlarani itu!” bisik Pangeran Sumirat. Ki Bela mengangguk. Segeralah mereka mendobrak pintu gubuk. Penghuni gubuk itu sangat terkesiap dan segera mengadakan perlawanan. Terjadilah pertarungan sengit. PAngeran Sumirat dan Ki Bela membahu meredam serangan Nenek SIhir dan anak buahnya. Dalam suatu tendangan mematikan yang dilakukan  Pangeran Sumirat mengenai dada Nenek Sihir secara telak. Ia pun jatuh terpelanting dan jatuh di atas tungku berapi. Api tungku berkobar. Gubuk pun terbakar. Pangeran Sumirat dan Ki Bela segera membawa gadis hitam legam dari dalam gubuk. Namun sebelum keluar gubuk, Ki Bela berhasil mengambil kendi berisi ramuan yang dapat memulihkan Putri Nilarani seperti yang dijelaskan Nenek Sihir.

Setelah mencari tempat yang aman, gadis hitam legam segera minum ramuan dari dalam kendi. Sungguh aneh. Tubuhnya menggigil dan lalu  pingsan. “Apakah Ki Bela tidak slah mengambil kendinya?”tanya Pangeran Sumirat bernada kuatir.
“Tidak” kata Ki Bela yakin.
Tubuh gadis legam menjadi kaku. Dan tiba-tiba mengepul asap kebiru-biruan. Dan kemudia peluh membasahi tubuhnya. Tetapi, perlahan –lahan warna kulit hitam itu luntur, berubah menjadi kuning langsat. Ternyata tidak lain, dialah Putri Nilarani. Ia pun sadar dan menatap wajah Pangeran Sumirat dan Ki Bela.

Saya ucapkan terima kasih atas pertolongan Pangeran dan Ki Bela,”kata Putri NIlarani terbata.
“Berterima kasihlah pada Sang Dewata. Karena kehendakNya kau bisa pulih seperti sedia kala,”jawab pangeran Sumirat merendah. Putri NIlarani mohon diantar pulang ke istana Kerajaan Batang. Raja Marundata bersama permaisuri menyambut gembira atas kedatangan putrinya. Apalagi diantar oleh seorang kesatria yang gagah perkasa. Raja Marundata tidak ingkar janji dengan sayembara yang diumumkannya. Akhirnya Putri Nilarani menikah dengan Pangeran Sumirat. Mereka pun menjadi suami istri yang berbahagia dan sejahtera sampai akhir hayat.

P
erbuatan jahat, betapapun dirahasiakan ataupun disembunyikan, akhirnya dapat diketahui juga. Sekian cerita kakak kali ini. Sampai berjumpa pada cerita dari daerah lain.











KEONG EMAS


D
ewi Galuh Candra Kirana adalah putri raja Kerajaan Daha. Ia dipertunangkan  dengan Raden Inu Kertapati, putra mahkota Kerajaan Kahuripan. Seluruh rakyat Kerajaan menyambut gembira perayaan agung itu. Namun, tidak demikian dengan seorang gadis berdarah biru yang bernama Galuh Ajeng. Ia cemburu dan berkeinginan menjadi istri Raden Ini Kertapati.
“Aku harus menggagalkan pernikahan mereka!” pikir Galuh Ajeng.
Kemudian Galuh Ajeng menemui seoranmg nenek sihir yang jahat, agar dengan ilmu sihirnya dapat mencelakakan Dewi Galuh Candra Kirana.
“Permintaan Tuan Putri Galuh Ajeng akan segera saya laksanakan !” kata nenek sihir.
“Bagus, Nek,agar Raden Inu Kertapati bisa segera kawin denganku,” ujar Galuh Ajeng penuh harap.

Konon Baginda Raja Daha terpengaruh ulah keji Galuh Ajeng dengan cara memfitnah Dewi Galuh Candra Kirana. “Enyahlah kau dari keratin! Tak pantas engkau menjadi istri Raden Inu Kertapati!” geram Sri Baginda Raja. Padahal Dewi Galuh Candra Kirana adalah anak kandung Sri Baginda Raja pertimbangan Sri Baginda Raja.
Mulai saat itu Dewi Galuh Kirana berjalan tak tentu arah tujuan. Hidupnya terlunta-lunta masuk hutan keluar hutan. Sampai pada suatu hari ia tiba di sebuah pantai.
“Oh, Sang Dewata, apakah yang akan terjadi pada diri hamba yang hina dina ini?”kata Dewi Galuh Candra Kirana dengan pasrah. Di situlah Dewi Galuh Candra Kirana terkena ilmu sihir yang dikirim oleh nenek sihir jahat. Ia berubah wujud menjadi seekor keong emas. Keong Emas terombang-ambing hingga akhirnya terdampar di pantai lain yang tidak jauh dari Desa Dadapan.

“Wow! Cantiknya keong ini !”seru Nenek Dadapan sambil mengambil Keong Emas yang tergolek di atas hamparan pasir putih. “Mari, ikut ke rumah nenek. Kamu akan kupelihara dengan baik, ”ujar Nenek Dadapan. Kemudian ia membawa Keong Emas pulang.
Setibanya di rumah, Nenek Dadapan memasukkan Keong Emas ke dalam tempayan yang berisi air bersih.
“Tinggalah di sini, Keong manis,” kata Nenek Dadapan dengan penuh senyum. Seperti biasanya, Nenek Dadapan pergi ke pantai untuk mencari ikan. Namun, agaknya hari itu nasibnya sedang sial karena tidak mendapatkan ikan seekor pun. Iapun  segera pulang. Ketika masuk rumah, betapa terkejutnya ia melihat hidangan yang enak dan lezat sudah tersedia dibalai-balai.

Pada hari berikutnya, ketika Nenek Dadapan baru pulang dari pantai, tampak rumahnya berasap.
“Apakah gerangan yang terjadi di rumahku?”tanyanya. Kemudian ia mengintip dari balik bilik rumhnya, dan dilihatnya seorang gadis sedang memasak.
“Siapakah yang sedang memasak itu?” Karena tidak dapat menahan diri, akhirnya Nenek Dadapan masuk ke dapur dan menanyakan hal ikhwal putrid yang cantik itu disihir menjadi Keong Emas. Kemudian Dewi Galuh Candra Kirana menceritakan tentang dirinya kepada Nenek Dadapan.

Nenek Dadapan tercengang. “Oh, rasa iri memang sangat menyesatkan dan bisa membuat orang menderita,” keluhnya. Kemudian nenek Dadapan berdoa,”Sang Dewata yang Maha Agung, hamba mohon agar kutukan yang diderita Dewi Galuh Candra Kirana segera berakhir.
Sementara itu, Raden Inu Kertapati yang mendengar tentang nasib Dewi Galuh Candra Kirana tidak tinggal diam. Ia pergi mencari tunangannya. Berbulan-bulan berkelana masuk hutan keluar hutan. Akhirnya ia bertemu dengan Dewi Galuh Candra Kirana.

Adik- adik, maka terjadilah sebuah perjumpaan yang sangat mengharukan. Seketika itu juga kutukan nenek sihir jahat itu sirna. Raden Inu Kertapati memboyong Dewi Galuh  Candra Kirana kembali ke istana, dan mengajak serta Nenek Dadapan. Akhir cerita, mereka bertemu di singgasana pelaminan, dan Raden Ini Kertapati dinobatkan menjadi Raja di Kahuripan ( Kediri ) dengan gelar Kameswara I.

C
inta dan kesetiaan dapat mengatasi segala rintangan yang berupa apapun. Kebenaran dan kejujuran akan mengatasi segala kebusukan dan perbuatan jahat. Demikianlah adik- adik, isi pesan dari cerita ini.



CINDELARAS


H
ai adik- adik, ada yang yang mau mendengarkan kakak bercerita ?
Alkisah di zaman dahulu kala ada sebuah negeri yang terkenal bernama negeri Purwacarita, dan tengah menyelenggarakan penobatan Panji Putera menjadi maharaja menggantikan ayahandanya. Pesta pora berlangsung meriah. Tidak ketinggalan adu ayam jago diadakan karena merupakan kesukaan Sri Baginda Panji Putera. Sementara itu, di pintu gerbang istana ada seorang wanita hamil yang ingin bertemu dengan Sri Baginda. “ Cepat pergi dari sini,sebentar lagi Sri Baginda akan melalui pintu gerbang ini,”bentak seorang pengawal kepada wanita hamil itu.
Tak lama kemudian Sri Baginda Panji Putera melalui pintu gerbang istana. Ia terperanjat, melihat seorang wanita hamil mendekatinya.
“Pangeran Panji Putera, anak yang kukandung ini adalah anakmu !” teriak wanita hamil itu. Wanita itu mengaku bernama Ratnasari. Sri Baginda Panji Putera tidak memperdulikan sedikitpun. Bahkan ia memerintahkan kepada para pengawalnya untuk membuang wanita itu ke hutan belantara.

Ratnasari tinggal di hutan. Semakin hari kandungannya semakin besar. Suatu hari ia duduk di depan gubuknya, tiba- tiba seekor elang sedang mencekram seekor anak ayam terbang di atas kepala Ratnasari. Anak ayam tersebut lepas dari cengkramannya, dan tepat jatuh di pangkuan Ratnasari.
“Kasihan sekali anak ayam ini,” gumam Ratnasari. Karena merasa kasihan anak ayam itu lalu dipelihara.

Adik- adik yang baik hatinya, tibalah saatnya Ratnasari untuk melahirkan. Ia melahirkan seorang anak yang tampan dan elok rupanya. Anak ayamnya pun menjadi seekor ayam jantan yang siap tarung. Apabila berkokok selalu diikuti dengan suara “ Aku jagonya Cindelaras, Ibunya dibuang ke tengah hutan, sedangkan ayahnya bertahta di istana”.
Lalu Ratnasari memberi nama Cindelaras kepada anaknya.

Beberapa tahun kemudian, Cindelaras semakin dewasa dan ia ingin mencari ayahnya.
“Jangan pergi, anakku. Ibu kuatir kau celaka” kata ibunya sambil memandang Cindelaras yang menunjukkan tekad besar ingin berjumpa ayahnya.

“Ayam ajain, anugerah Deata, ayam elang putih,” gumam Cindelaras sambil melangkahkan kakinya menuju istana. Ibunya sangat kebingungan karena Cindelaras sudah tidak dapat dihalangi lagi. Tibalah Cindelaras di istana dengan membawa elang putih, dan langsung masuk ke gelangang persabungan ayam.
“Ayam sabungan Sri Baginda tidak ada tandingannya!” kata seorang pengawal kerajaan sambil mengejek. Sang Pengawal menyarankan agar Cindelaras mencari lawan ayam yang lain. Namun, Cindelaras tetap mendesak ingin melawan ayam jago milik Sri Baginda Panji Putera.

“Ooh, jadi kau yang bernama Cindelaras?” tanya Sri Baginda kepada Cindelaras. “ Ya, hamba Cindelaras,” jawabnya. Cindelaras menantang ayam jago Sri Bagunda dengan taruhan, kalau ayamnya kalah sebagai taruhannya adalah batang lehernya. Sedang Sri Baginda mempertaruhkan Istana Kerajaan. Sebagai lawan tanding ayam jago Cindelaras, Sri Baginda memilih ayam jago bernama Kobra. Terjadilah pertarungan seru. Namun, hanya beberapa gebrakan saja ayam jago Sri Baginda langsung mati.

“Sekarang akan kupilih ayam andalanku. Ayam sapu Jagad,” kata Sri Baginda sambil memegang ayam jago kesayangannya. Pertarungan pun berlangsung menegangkan. Ayam Sapu Jagad pun mengalami nasib sama seperti ayam kobra. Sri Baginda tetap penasaran, sehingga ia mengadu semua ayam jagonya. Dan tak seekor pun yang dapat mengalahkan ayam Elang Putih milik Cindelaras.

“Aku kalah, dan sekarang kuserahkan istanaku kepadamu,” kata Sri Baginda Panji Putera lunglai. Namun Cindelaras tidak mau menerimanya.
“Tidak pantas Negara dipertaruhkan dalam sabung ayam,” katanya. Mendengar itu Sri Baginda terkesiap dan ingin tahu asal- usul Cindelaras. Sri Baginda baru sadar bahwa Cindelaras adalah anaknya, dan Ratnasari Ibu Cindelaras adalah istrinya.
Akhirnya mereka berkumpul dan hidp bahagia di Istana Purwacarita.

T
idak ada seorangpun yang luput dari kesalahan maupun kekhilafan. Namun untuk menyadarinya diperlukan suatu perbuatan yang nyata dan mau mengakui kesalahan yang pernah dibuat.