RSS

Bende Emas


A
lkisah, pada zaman dahulu kala ada sebuah kerajaan di Pulau Jawa yang aman dan tentram. Rakyatnya hidup rukun dan damai. Tanahnya subur makmur dan memberi hasil yang melimpah ruah . Namun, suatu ketika kerajaan tersebut ditimpa musibah yang amat luar biasa, yaitu serangan hama tikus pada tanaman padi di sawah. “Tikus! Tikus! “ semua penduduk berteriak karena selalu bertemu dengan tikus. Hampir semua tempat dikuasai tikus. Padi di lumbung dan di sawah juga habis dimakan tikus. Tanaman Palawija di lading dan di kebun juga tidak ada yang tersisa. Bahaya kelaparan mulai mengancam seluruh kerajaan. “ Mari kita basmi mereka !” teriak seorang penduduk sambil membunuh seekor tikus. Namun anehnya bila mereka berhasil membunuh seekor tikus, datang lima ekor tikus yang lain. Mati satu, datang lima, mati lima, muncul dua puluh lima. Begitu seterusnya, selalu muncul tikus- tikus lain dengan kelipatan lima. Melihat keadaan itu, Sri Baginda Raja pun mengeluarkan maklumat. “Barangsiapa dapat membasmi tikus yang mengancam keselamatan negeri ini,akan kuangkat menjadi Panglima Perang kuberi hadiah emas berlian !”
Sayembara itu pun segera diumumkan ke seluruh negeri. Suatu saat seorang petani membunuh seekor tikus, namun binatang itu langsung hidup kembali. “Tikus sakti !” teriak petani itu ketakutan. Melihat kesaktian tikus itu, banyak penduduk yang tidak yakin ada orang yang dapat memenangkan sayembara. Bahkan setelah sayembara itu diumumkan serbuan tikus semakin merajelela.
Suatu hari penduduk dikejutkan dengan datangnya seorang pemuda perkasa memegang bende emas dan menunggang kuda putih. “ Hey, tikus- tikus, sekarang saatnya kalian mengikut aku!”teriak pemuda tampan dengan lantang sambil memukul bende emasnya tiga kali. Seketika itu juga ribuan tikus mengikuti pemuda itu. “Lihat, tikus- tikus itu berbaris seperti semut!” teriak penduduk yang melihat kejadian itu. Pemuda tampan itu berjalan semakin cepat, ribuan tikus yang berada di belakangnya ikut berlari.
Tibalah mereka di sebuah pantai dengan ombak bergulung- gulung yang siap menelan siapa saja yang tercebur ke dalamnya. “ Masuklah ke dalam laut !”perintah pemuda itu sambil memukul bende emas tiga kali. Dalam sekejap ribuan tikus pembawa petaka itu langsung lenyap ditelan ombak.
Sri Baginda mendapat laporan dari Mahapatih, bahwa seorang pemuda gagah perkasa berkuda putih dan membawa bende emas berhasil melenyapkan hama tikus. Mendapat laporan itu Sri Baginda sangat gembira. Ia memerintahkan agar si pemuda tampan segera menghadapnya, untuk menerima hadiah yang dijanjikan.
Namun Mahapatih berkata,” Ampun Sri Baginda, menurut pendapat saya untuk menduduki jabatan Panglima Perang, tidak semudah yan dilakukan pemuda itu. Oleh karena itu, tidak selayaknya ia diberi jabatan Panglima Perang”. Mahapatih berusaha mempengaruhi Sri Baginda Raja.“Bahkan dialah sebenarnya yang menyihir tikus- tikus agar menyerang negeri tercinta ini,” tambahnya.Atas hasutan Mahapatih yang jahat itu, Sri Baginda Raja membatalkan pemberian hadiah itu. Beliau bahkan mengusir si pemuda," Kau pembawa malapetaka! Enyahlah dari hadapanku!”
Pemuda tampan itu bergegas meninggalkan istana Raja. Ia menaiki kuda putihnya sambil memukul bende emas tiga kali. Seketika itu juga puluhan anak dari seluruh kerajaan berkumpul lalu bergegas mengikuti pemuda tampan itu masuk ke dalam gua hantu.

“Di mana anakku ?” teriak setiap orang tua yang kehilangan anak-anaknya. Mereka pun segera menghadap Sri Baginda Raja. Mahapatih melaporkan bahwa anak- anak  terkena sihir pemuda tampan dan dimasukkan ke dalam gua hantu. “Segera bebaskan mereka. Jangan sampai ada yang cedera!” perintah Sri Baginda kepada Mahapati. Ia segera menyiapkan pasukan pilihan untuk menyerang gua hantu.
Pasukan kerajaan di bawah pimpinan Mahapatih segera menuju gua hantu. Mereka berusaha membebaskan anak-anak dari dalam gua hantu. Mereka bersatu-padu menghimpun kekuatan untuk membuka  pintu gua, tetapi tidak berhasil.
“Ampun Sri Baginda, kami tidak berhasil membebaskan anak- anak dari gua hantu,” kata mahapatih kepada Sri Baginda. Mendengar itu Sri Baginda  menjadi murka dan segera menjatuhkan hukuman kepada mahapatih. Rakyatlah yang akan menghukumnya. Segeralah rakyat bertindak.

Mahapatih yang jahat itu mulai dihakimi oleh para orang tua yang kehilangan anaknya. Namun tiba- tiba datanglah seorang kakek berpakaian serba putih. “ Berhenti !” teriak kakek itu dengan lantang dan mendekati mahapati yang sudah mulai babak belur.
“Siapakah kakek ?”tanya Mahapatih dengan mengiba. Kakek itu berkata bahwa ia adalah penduduk biasa yang bermaksud menolong Mahapatih dari hukuman rakyat.
“Bebaskan anak-anak dari gua hantu !” pinta Mahapatih penuh harap. Jika anak- anak dibebaskan dari gua hantu, maka Mahapatih akan dibebaskan dari hukuman rakyat.
Saat itu pula si kakek dan para orang tua menuju gua hantu. Kakek itu segera bersemedi di depan gua hantu. Ia berdiri dan menghentakkan kaki kanan tiga kali. Seketika itu juga pintu gua hantu terbuka. Aneh bin ajaib! Dalam sekejap kakek itu pun berubah menjadi pemuda tampan tadi. Anak- anak pun segera bergegas keluar dari gua hantu dalam keadaan sehat. Mahapatih segera mengajak pemuda itu menghadap Sri Baginda.

“Akulah Joko Tulus, pemuda yang pernah menyelamatkan kerajaan Baginda,”kata pemuda itu dengan mantap. Sri Baginda ingin Joko Tulus menjadi Panglima perang, namun ia tidak bersedia. Joko Tulus berpesan barangsiapa ingkar janji, dia akan terkena akibatnya. Setelah Joko Tulus segera pergi. Ia selalu hidup mengembara untuk menolong orang yang berada dalam kesulitan.

L
egenda Bende Emas mengajarkan kepada kita bahwa sebuah janji yang telah disepakati harus ditepati. Bila kita ingkar janji, kelak kita juga akan menerima akibatnya. Selain itu, hendaknya kita menolong orang yang sedang mengalami kesulitan dengan senang hati dan ikhlas. Adik- adik bersedia ?








































Asal Usul Kolintang


P
ada jaman dahulu , di daerah Minahasa Propinsi Sulawesi Utara ada sebuah desa yang indah bernama To Un Rano yang sekarang dikenal dengan nama Tondano. Di desa To Un Rano itu, tinggallah seorang gadis cantik jelita. Kecantikkannya tersohor ke seluruh pelosok desa, sehingga banyak dibicarakan orang, maka tak mengherankan banyak pemuda yang jatuh hati kepadanya. Gadis itu bernama Lintang. Ia pandai menyanyi, suaranya nyaring dan merdu.
Seorang Putra mahkota Raja Mongondow mendengar bahwa di desa To Un Rano ada gadis yang cantik jelita dan pandai bernyanyi bernama Lintang. Ia pun sangat tertarik dan berniat untuk meminangnya. Putra mahkota itu mempunyai seuah seruling emas. Bentuknya sangat indah, bunyinya nyaring dan merdu.
“Aku yakin Lintang akan jatuh hati denganku berkat seruling emas ini,” gumam Putra Mahkota itu. Ia mempersiapkan diri dengan penuh keyakinan, agar pinangannya berhasil.

Hari yang telah ditentukan akhirnya tiba juga. Putra Mahkota  Raja Mongondow beserta rombongannya, berangkat menuju desa To un Rano. Setelah mengadakan perjalanan seharian penuh, rombongan Putra Mahkota  tiba dikediaman riang gembira.
“Aku harus segera menyembunyikan seruling emasku,” kata Putri Mahkota dalam hati. Bunyi seruling emas merdu dan indah membelah angkasa. Putri Lintang belum memutuskan untuk menerima pinangannya Putra Mahkota. Setelah ia bisa sepuas-puasnya menyembunyikan seruling emas di istana Mongondow, saat itulah Putri Lintang baru memutuskan pinangan Putra Mahkota.

Dengan berat hati, putrid Lintang meninggalkan  Desa To Un Rano. Penduduk desa To Un Rano merasa kehilangan Putri Lintang. Mereka tidak rela melepaskan Putri Lintang pergi ke istana Mongondow.
Di tengah perjalanan, ada dua orang penduduk desa To Un Rano ingin menggagalkan pinangan Putra Mahkota. “ Telur busuk ini, kita masukkan ke dalam seruling. Dengan begitu Putri Lintang tidak mau menyembunyikan seruling, lalu Putri Lintang pasti akan menolak pinangan Putra Mahkota,”kata salah seorang penduduk desa To Un Rano kepada temannya. Telur busuk diambil dan dipecahkan, lalu dimasukkan ke dalam seruling emas itu.

Rombongan Putra Mahkota bersama Putri Lintang tiba di istana. Putri Lintang terkagum-kagum melihat keindahan istana. Namun, hatinya tetap di desa To Un Rano yang sangat ia cintai. Saat itu pula Putra Mahkota memberikan seruling emas kepada Putri Lintang dan Putri Lintang segera menyembunyikannya. Tetapi Putri Lintang segera menyembunyikannya. Tetapi Putri Lintang sangat terkejut karena dia mencium bau busuk pada seruling emas tersebut.
“Hi! Serulingnya bau busuk! Aku tidak mau!” teriak Putri Lintang. Lalu Putri Lintang dengan cepat melempar seruling emas itu. Putra Mahkota  langsung lunglai dan berkata pelan,” Berarti pinanganku ditolak.”

Putra Mahkota gagal meminang Putri Lintang dari Desa To Un Rano. Dengan hati lega Lintang pulang ke desanya. Penduduk desa pun menyambutnya dengan gembira.
Pada suatu hari, di desa To Un Rano diselenggarakana pesta muda-mudi. Saat itu seorang pemuda gagah dan tampan memperkenalkan diri kepada Lintang. “Makasiha namaku, aku berasal daru Desa Kelabat Atas,”kata Makasiga sambil menjabat tangan Putri Lintang. Memang Putri Lintang pernah mendengar nama Makasiga. Makasiga adalah seorang pemuda ahli ukir-ukiran dari desa Kelabat Atas. Dan perkenalan mereka pun berlanjut.
Makasiga ingin meminang Putri Lintang menerima pinangan Makasiga, tetapi dengan satu syarat. “ Buatkan aku musik yang lebih merdu dari bunyi seruling emas,”kata Putri Lintang kepada Makasiga. Makasiga menyanggupi persyaratan Putri Lintang tersebut. Dan berkat keuletannya, dengan cepat Makasiga mendapatkan alat music yang lebih keras dari bunyi seruling emas, namun bukan itu yang dimaksudkan Putri Lintang.

Akhirnya Makasiga berkelana mencari alat musik yang dimaksudkan Putri Lintang. Makasiga berkelana keluar masuk hutan, ternyata alat musik yang dimaksudkan Putri Lintang belum didapatkan. Untuk mengusir hawa dingin di malam hari, Makasiga membelah- belah kayu dan menjemurnya. Setelah belahan kayu itu kering, lalu diambil satu persatu dan dilemparkannya ke tempat lain. Sewaktu belahan kayu itu di lempar dan jatuh  ke tanah, saat itu belahan- belahan kayu itu mengeluarkan bunyi-bunyian yang amat nyaring dan merdu.
“Ha, belahan –belahan kayu ini pasti dapat dibuat alat music,” pikir Makasiga.

Berkat ketekunan dan keuletan Makasiga, akhirnya ia berhasil membuat alat bunyi- bunyian itu. Diletakkan lidi berderet berjajar dua. Dari deretan lidi disusun tali serat pangkal  daun enau. Potongan-potongan kayu dibuat berbeda panjangnya yang merupakan urutan not- not tertentu, kemudian disusun pada tali itu. Alat bunyi-bunyian diletakkan di sebuah palung yang kakinya ada empat setinggi paha.
“Hem, pasti Putri Lintang puas dengan alat bunyi-bunyian ini dan pinanganku diterima,”gumam Makasiga sambil menyembunyikan alat itu. Dari jauh ada dua orang pemburu yang mendengarnya. Mereka ketakutan, karena dikiranya setan penunggu hutan yang sedang bermain musik. Namun, setelah kedua pemburu itu mendekatinya, ternyata mereka mengenalnya. Ia adalah Makasiga dari Desa Kelabat Atas.

Kedua pemburu sangat terkejuut melihat Makasiga yang telah menjadi kurus, kering dan lemah. Sebab, selama di hutan Makasiga tidak pernah makan dan minum. Yang dicari adalah alat bunyi-bunyian yang dapat diterima dan menyenangkan hati Lintang.
Saat itu, kedua pemburu membawa Makasiga dengan tandu pulang ke Desa Kelabat Atas. Makasiga jatuh sakit yang amat parah. Akhirnya Makasiga meninggal dunia. Mendengar hal itu, Putri LIntang pun langsung jatuh sakit parah dan akhirnya menyusul Makasiga di alam baka. Mereka telah meningalkan jasa tiada tara yaitu telah menemukan alat musik yang dikenal dengan nama Kolintang.

K
egigihan, keuletan, keprihatinan adalah modal seorang untuk memperoleh keberhasilan. Hal ini dapat dibuktikan dengan berhasilnya menciptakan alat musik Kolintang oleh perjuangan Makasiga. Hebat bukan ?






Aji Saka


S
iapa yang tahu arti pengelana ? Adik- adik akan tahu artinya jika membaca kisah berikut ini : dahulu kala ada tiga orang pengelana dari negeri India yang dipimpin oleh seorang kesatria tampan dan gagah perkasa bernama Aji Saka. Aji Saka mempunyai pengikut yang setia , mereka adalah Dorha dan Sembadha. Mereka berhari- hari mengarungi samudera raya dan akhirnya tiba di suatu daratan bernama Tanah Jawa. “ Hore, kita sudah sampai !” seru Ajisaka dan kedua pengikutnya dengan girang.

Mereka akan melakukan perjalanan di darat, namun barang- barangnya tidak dibawa. Salah satu dari kedua orang pengikutnya harus menunggu barang bawaan tersebut. Setelah diundi, ternyata Sembadha yang harus menjaga. “Ingat pesanku,paman Sembadha, barang – barang ini tidak boleh diambil siapapun, kecuali aku, dan rawatlah barang- barang ini, seperti merawat dirimu sendiri,” pesan Ajisaka kepada  Sembadha. Setelah itu, Ajisaka dan Dorha berangkat.
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, Ajisaka dan Dorha tiba di sebuah dusun yang merupakan wilayah Kerajaan Medangkamulan. Mereka bertemu dengan salah seorang penduduk  yang tampak murung dan sedih, “ ceritakanlah apa yang sedang kau alami, pak?” tanya Ajisaka. Semula orang itu tidak mau bicara, namun setelah didesak terus,barulah orang itu berterus terang bicara,” Aku harus segera berpisah dengan anak laki- laki kesayanganku untuk dijadikan santapan Raja.”
Mendengar keluhan itu, Ajisaka bersedia menjadi penggantinya.

Adalah Dewavengkar, seorang Raja Keraajaan Medangkamulan yang setiap tiga hari sekali harus disediakan seorang pemuda untuk dijadikan santapannya. “Aku lapar!. Aku lapar !” teriak Raja Dewatacengkar sambil menahan lapar. Seorang Patih melaporkan bahwa di pintu gerbang istana ada seorang pemuda gagah lagi tampan bersedia dijadikan santapan Raja Dewacengkar.
Ajisaka segera menghadap Raja Dewacengkar dan memperkenalkan diri serta mengatakan maksudnya. “ Ini baru santapan lezat dan nikmat!” seru Raja Dewatacengkar dengan girang. Sebelum Ajisaka disantap, ia mengajukan syarat yang harus dipenuhi Raja Dewatacengkar yaitu berupa tanah selebar ikat kepalanya. Raja Dewatacengkar menyanggupinya. Ajisaka segera meletakkan ikat kepalanya di atas tanah. Ikat kepala langsung melebar, sehingga Raja Dewatacengkar terpaksa mundur dan akhirnya tercebur di laut selatan. Seketika itu juga, Raja Dewatacengkar berubah wujud menjadi buaya putih. Akhirnya, seluruh rakyat Kerajaan Medangkamulan bersukaria.

Kemudian Ajisaka diangkat menjadi raja Medangkamulan menggantikan Raja Dewatacengkar. “ Segera jemput Sembadha dan ambil barang- barang kita,” kata Raja Ajisaka kepada Dorha. Semula Dorha tidak menyanggupi karena ia lupa rute perjalanan yang dulu ditempuh. Namun, atas petunjuk bintang di langit, ia dapat sampai di tempat Sembadha berada.
“Atas perintah Sri Baginda Raja Ajisaka, aku akan ambil barang- barang ini!” tandas Dorha kepada Sembadha sangat meyakinkan. Namun Sembadha tak bergeming, ia tetap mempertahankan pesan Ajisaka sebelum melakukan di daratan.

Karena Dorha dan Sembadha saling mempertahankan pendirina  sampai mati- matian, maka terjadilah pertarungan seru. Suasana pertarungan sangat mencekam dan menegangkan. “Aku tidak mau menyerah padamu, Sembadha ! Ciaat !.. Ayo keluarkan semua kesaktianmu !” tantang Dorha kepada Sembadha.Terjadilah adu ilmu kesaktian tinggi.
“ Terimalah keris bertuahku ! Ciaaat!” teriak Dorha melompat sambil menghunus keris bertuah miliknya. Sembadha terlambat menghindar. Seketika itu juga keris bertuah menembus perut Sembadha. Pada saat nyawa meregang, Sembadha dapat menghunus keris bertuahnya dan tepat menembus perut Dorha. Tidak berapa lama Dorha meregang nyawa.
Di istana Medangkamulan, Ajisaka sangat gelisah menunggu kedatangan Dorha dan Sembadha yang tak kunjung datang. Akhirnya, Ajisaka memutuskan untuk menjemput mereka. Setelah Ajisaka tiba di tempat itu, betapa terkejutnya ia melihat Dorha dan Sembadha telah menjadi mayat. Saat itu Ajisaka berucap :
Ha  Na  Ca  Ra  Ka  - Ada utusan
Da  Ta   Sa  Wa  La – Saling bertengkar.
Pa  Da   Ja  Ya  Nya –Sama- sama sakitnya
Ma  Ga  Ba  Ta  Nga – gugur bersama

Adik- adik, ini adalah huruf dasar aksara Jawa. Apa maksud dari cerita ini ?

K
esetiaan yang tulus merupakan wujud nyata dari tanggungjawab. Dorha dan Sembadha gugur bersama demi menunjukkan kesetiaan kepada seorang Ajisaka.

TIMUN MAS

Adik- adik, memasuki liburan ini yuk kita baca kisah tentang Timun Mas

Pada zaman dahulu di sebuah desa terpencil ada seorang janda yang menginginkan seorang anak. Ia mendatangi seorang Kakek Raksasa Sakti dengan maksud meminta petunjuk untuk mendapatkan seorang anak ia meminta tolong kepada Kakek Raksasa Sakti untuk mewujudkannya.
"Keinginanmu terkabullkan, tetapi dengan syarta, kalau anakmu nanti lahir perempuan, harus kau serahkan kepadaku,"kata Kakek Raksasa Sakti. Si Janda diam, namun dalam hati ia berkata "semohga anak yang lahir nanti laki- laki". Si Janda segera pulang. Di tengah perjalanan ada sebatang pohon kelapa, latiba- tiba buahnya jatuh. Segera ia pungut, lalu dipecah, dan diminum airnya. Semua ini sesuai dengan pesan Kakek Raksasa Sakti. Setelah beberapa bulan kemudian, ia hamil. Dan setelah waktunya, si janda melahirkan. Bayinya perempuan wajahnya cantik, kulitnya berkilauan, seperti emas terkena sinar cahaya. "Timun Mas," ucap si Janda memberi nama anaknya.
Tahun berganti tahun, tidak terasa Timun Mas sudah berumur 10 tahun. Selama itu, Kakek Raksasa Sakti sudah tang dua kali menagih janji, agar Timun Mas diserahkan kepadanya. Namun, kali ini Kakek Raksasa Sakti memaksa. Timun Mas harus segera diserahkan kepadanya. "Aku tidak sabar lagi, ingin menyantap Timun Mas yang segar itu," geram Kakek Raksasa Sakti, namun si Janda minta tenggang waktu dua tahun. Kakek Raksasa akhirnya menyanggupi. 
Ibu Timun Mas berdaya upaya bagaimana caranya menyelamatkan Timun MAs. Ia minta tolong kepada seorang yang sakti. "Terimalah empat bingkisan yang masing- masing berisi biji timun, jarum garam dan terasi,"kata orang sakti itu kepada Ibu Timun Mas. Dengan rasa syukur, Ibu Timun Mas pulang dengan gembira.
Pada suatu hari, Kakek Raksasa Sakti datang menagih janji yang menurut perhitungannya Timun Mas sudah berumur 12 tahun. Sementara langlkah - langkah Kakek Raksasa Sakti terdengar masih jauh, Ibu Timun Mas memanggil Timun Mas. 
"Anankk, terimalah empat bungkusan yang masing- masing berisi biji timun, jarum, garam dan terasi," kata Ibu Timun Mas sambil menjelaskan pula cara penggunaannya. Setelah memahaminya, Timun Mas lari meninggalkan rumah.
Kakek Raksasa Sakti tidak menemukan Timun Mas. Ia berusaha mencari sendiri. Dari kejauhan Kakek Raksasa Sakti melihat Timun Mas berlari seperti kilat dan segera dikejarnya.
Timun Mas hampir tersusul. Dan ia segera membukan bingkisan yang pertama berisi biji ketimun. Seketika itu juga tumbuhlah biji timun dengan subur dan lebat sekali.  "Aku harus segera makan timun iniuntuk mengobati dahagaku,"kata Kakek Raksasa Sakti dengan riangnya. Semua buah Timun dimankannya, tidak ada satu pu yang tersisa.
Sesudah habis timunnya, Kakek Raksasa Sakti mengejar Timun Mas lagi. Timun Mas hampir tersusul. Ia segera membuka bungkusan kedua yang berisi jarum. Seketika itu juga tumbuh menjadi hutan bambu berduri. Kakek Raksasa Sakti ragu- ragu menerobos hutan bambu berduri itu. "Terobos hutan itu, kutunggu  di sini !" seru Timun Mas. Kakek Raksasa Sakti segera menerobos hutan bambu berduri itu. Seluruh badanya tergores duri bambu. Namun semua itu tidak dirasakannya. Yang penting dapat menangkap dan menyantap Timun Mas.
Timun MAs melihat Kakek Raksasa Sakti sudah dekat kembali. Ia lalu membuka bungkusan yang ketiga berisi garam, dan melemparkannya ke belakangnya. Di tempat jatuhnya  garam, berubah menjadi laut yang dalam serta bergelombang tinggi. Kakek Raksasa Sakti   bertekad menyebrangi lautan. "Timun Mas! Tunggu sebentar !", Kutunggu di sini kek!" jawab Timun Mas. Kakek Raksasa Sakti sampai di tepi laut dengan selamat. Namun, ia sangat lelah. Melihat Kakek raksasa Sakti kepayahan, lalu Timun Mas membuka bungkusan yang keempat yang beisi terasi dan dilemarkan ke belakang. Timbullah lautan lumpur, luas dan dalam, serta mendidih, Kakek Raksasa bingung sekali. " Bagaimana caranya menyebrangi lautan ini," katanya dalam hati. Namun karena keinginan yang menggebu-gebu untuk menyantap Timun Mas, ia segera terjun, ternyata makin ke tengah, lautan lumpur makin pana dan berjalan mengikuti kakinya. Kakek Raksasa Sakti semakin kehabisan tenaga dan ia meninggal dalam lumpur panas.
Timun Mas terlepas dari cengkraman Kakek Raksasa Sakti, segera ia kembali ke rumah ibunya. Karena Timun Mas terkenal kecantikannya, ia dipersunting menjadi seorang pangeran. Akhirnya mereka hidup bahagia.

Wuih...seru ya adik-adik. Hari ini kita belajar apa ya ?
Kebenaran akan dapat mengalahkan ketamakan dan kerakusan, asalkan berani membela dengan mempertaruhkan jiwa raga yang tanpa pamrih.