RSS

Batu Badaon


A
dik- adik, kali ini kakak ingin bercerita kisah dari Kepulauan Maluku. Ada seorang janda miskin bernama Mak Lena yang tinggal bersama dua orang anaknya yakni Ria dan Roi. Mak Lena adalah seorang rajin dan giat bekerja, namun tetap saja hidupnya serba kekurangan, karena harus menghidupi dua orang anaknya itu. Apalagi Ria yang sudah menginjak usia remajatidak pernah membantu ibunya. Ia sangat malas dan sifatnya pun kekanak- kanakan. Sedang Roi seorang anak laki- laki baru berumur dua tahun. Dengan demikian, seluruh hidupnya masih bergantung pada Mak Lena. Pada suatu hari Mak Lena menderita sakit. Ia minta tolong Ria untuk menanak nasi dan merebus air, tetapi Ria malah pergi bermain dan meninggalkan ibunya.
Begitulah sikap Ria terhadap ibunya. Meski ibunya sedang menderita sakit, ia tidak pernah memperhatikan, apaagi menolong atau menghibur. Ria sibuk bermain dengan mainannya, seperti boneka,karet , kelereng dan sebagainya. Bahkan ia sering meninggalkan rumah untuk bermain dengan teman- temannya selama sehati penuh. “ Aku harus segera sembuh,”gumam Mak Lena. Berkat keinginan luar biasa mak Lena untuk sembuh dari penyakitnya, saat itu pula Mak Lena merasa segar bugar. Ia kembali bekerja tak kenla lelah. Waktu pulang bekerja, ia selalu membawa oleh- oleh untuk kedua anaknya. “Dua potong kue ini satu untukmu dan satu pootng lagi untuk adikmu,” kata Mak Lena kepada Ria.
Tiba- tiba Roi menangis sejadi- jadinya. Apa yang terjadi? Rupanya kue milik Roi direbut oleh Ria. “Sudahlah jangan menanis saying,”kata Mak Lena menghibur Roi. Tetapi Roi tetap saja menangis. Keserakahan telah memenuhi hati Ria. Ia tidak menyadari bahwa hidupnya masih bergantunhg kepada orang tua. Mak Lena mengelus dada, sambil melangkahkan kaki meninggalkan rumah menuju pantai dengan perasan sedih.
Di tepi pantai, Mak Lena merenungi nasibnya. “Oh, lebih baik aku mati saja,”ungkap hati Mak Lena yang sudah putus asa. Pandangan matanya jauh menerawang ke depan, seakan-akan masa depannya sudah tidak ada harapan lagi. Kemudian ditatapnya sebuah bongkahan batu besar   yang terbelah dua tepat berada di depannya. Batu besar itu dikenal dengan sebutan Batu Badaon.  Saat itulah seorang kakek berjanggut panjang dan berjubah putih mendekatinya. “Wahai wanita yang sedang putus asa,”kata kakek itu. Mak Lena terkejut dan berusaha menenangkan hatinya. “ Namaku Inga- Inga,”kata kakek itu memperkenalkan diri. “ Lena nama saya, “ kata Mak Lena sambil berjabat tangan dengan kakek Inga- Inga. Kakek itu mengingatkan Mak Lena untuk tidak berputus asa dan termenung di dekat Batu Badaon, karena batu itu akan menelan orang yang berada di dekatnya. Apalagi orang yang putus asa terhadap hidupnya.
Mendengar penjelasan kakek Inga- Inga itu, Mak Lena malah menyambutnya dengan senang hati. “Lebih baik saya ditelan oleh Batu Badaon itu!” kata Mak Lena. Ia berharap bila ditelan Batu Badaon, penderitaan hidupnya akan segera berakhir. “Jangan!  Kau jangan bunuh diri! Kau masih punya anak kecil-kecil!”tandas kakek Inga- Inga sambil menghilang. “Oh, di manakah kakek itu ? Tiba- tiba dia menghilang!” seru Mak Lena terkejut dan bingung. Ia pun segera pulang ke rumahnya.
Setibanya Mak Lena di rumah, didapatinya kedua anknya berteriak kelaparan. Mak Lena segera membuka oleh- oleh berupa beberapa potong kue. Ria segera mengambil semuanya, sehingga Roi adiknya tidak mendapatkan bagian. “ Jangan kau ambil semua kue itu!” teriak Mak Lena mengingatkan Ria, “Kau jangan serakah! Berikan pada adikmu!” Namun Ria tetap mementingkan diri sendiri dan Roi pun hanya dapat menangis. Melihat keadaan itu Mak Lena terasa teriris hatinya. Ia ingin segera mati saja. Dengan langkah gontai, Mak Lena meninggalkan kedua anaknya.
Kemana Mak Lena pergi? Tenyata ia langsung menuju pantai di mana terdapat batu belah, si Batu Badaon. Di tengah perjalanan Mak Lena bertemu dengan seorang wanita, yang mennayakan tentang maalah yang dihadapi Mak Lena. “ Jangan ganggu aku!” kata Mak Lena ketus, “Aku mau pergi jauh. Aku tidak mau bertemu Ria , anakku !”tandas Mak Lena. Kemudian Mak Lena pun melanjutkan perjalanannya.
Setibanya di pantai, Mak Lena seger berlari mendekati batu belah, Batu Badaon. Mak Lena segera menengadah kedua belah tangannya sambil berseru,”Batu Belah! Ba tu Badaon! Lihatlah aku yang malang ini! Terimalah diriku wahai Batu Belah, Batu Badaon!”. Tiba- tiba bunyi menggelegar bagai halilintar membelah angkasa. Batu Badaon terbelah menjadi dua. Lubang belahan tampak siap menelan tubuh Mak Lena. Dalam sekejap tubuh Mak Lena masuk ke dalam belahan Batu Badaon. Setelah itu Batu Badaon menutup kembali. Tetapi apa yang terjadi? Rupanya rambuk Mak Lena yang mengurai panjang tidak semuanya lenyap di telan Batu Badaon. Ujung rambunya masih tersisa, sehingga tambap dari luar.

S
ementara itu, Ria dan Roi mencari Mak Lena. Kedua anak itu berjumpa dengan wanita yang berpapasan dengan Mak Lena tadi. Wanita itu berkata bahwa Mak Lena pergi ke pantai di mana Batu Badaon berada. “Mak!Mak!” teriak kedua anak itu kebingungan. Betapa terkejutnya kedua anak itu melihat ujung rambut Mak Lena yang mengurai di sela- sela Batu Badaon. “Oh, ini rambut Mak! Tega benar Mak meninggalkan kami berdua,”gumam Ria sambil menghibur adiknya yang menagis terus. “ Ria ikut mak!” seru Ria berulang-ulang. Tiba- tiba bunyi menggelegar membelah angkas bersmaan deburan ombak. Batui Badaon terbelah kembali. Seketika itu juga dua anak itu ditelan dan menjadi satu dengan ibunya.
“Ihhh, mengerikan ya adik- adik. Makanya, kita harus patuh dan hormat kepada orang tua. Kita pun harus membantu meringankan beban mereka, bukan tambah menyusahkan. Belajarlah dari legenda Batu Badaon ini.




Jaka Linglung


A
dik- adik, alkisah pada waktu Aji Saka belum menjadi raja, di Medang Kamulan, beliau pernah tinggal di rumah janda Dadap Sari. Beliau pernah membuang air kecil di dekat lumbung padi milik janda tua itu. Lantas air seni itu terhirup oleh seekor ayam betina  yang kehausan. Kemudian bertelurlah ayam betina itu. Telurnya hanya sebutir, tetapi sangat besar. Berbulan – bulan ayam betina itu mengerami telurnya. Setelah genap satu tahun, barulah telur menetas. Ternyata yang keluar seekor ular kecil. Namun dalam waktu singkat ular tersebut tumbuh menjadi besar dan panjang sekali, seekor ular raksasa.

Penduduk Medang Kamulan gempar dan mereka beramai- ramai  ingin membunuh ular raksasa itu.
“Hai, rakyat Medang Kamulan, jangan bunuh aku ! Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku adalah anak Aji Saka yang bergelar  Prabu Jaka,”kata ular raksasa itu seraya mendesis.

Sang Ular raksasa segera menghadap  Prabu Jaka.
“Hai ular buruk rupa, jangan lancing ! Kau bukan anakku !” sangkal Prabu Jaka.
“Aku belum pernah kawin dengan wanita mana pun. Karena itulah aku digelari Prabu Jaka!” tambahnya. Ular raksasa itu menunduk dan memberi hormat kepada ayah kandungnya. Lalu ular raksasa itu pun menceritakan asal- usulnya. Prabu Jaka terkesima mendengar uraian ular raksasa yang disampaikan dengan halus dan sopan.

Prabu Jaka mulai sadar bahwa ucapan ular raksasa itu benar. Akhirnya Prabu Jaka bersabda,” ular raksasa, aku tidak mau menerima atau menolak dirimu. Buktikan dulu pengakuanmu itu melalui perjuangan !” Ular raksasa itu pun menyanggupi apa yang diperintahkan Prabu Jaka. Ia harus berhasil membunuh buaya putih jelmaan Dewata Cengker yang kini mendiami Laut Selatan. Bila berhasil  membawa kepalanya sang buaya putih, barulah si ular raksasa diakui sebagai anak Prabu Jaka. Namun jika tidak berhasil, ia akan segera dicincang oleh rakyat Medang Kamulan. Adapun buaya putih sangat menyengsarakan rakyat di Pantai Selatan. Tiap hari selalu ada orang yang menjadi santapannya.

Untuk melaksanakan syarat yang diajukan Prabu Jaka, ia harus melakukan perjalanan yang sama seperti yang dilakukan Prabu Jaka ketika Prabu Jaka ketika sampai di negeri Medang Kamulan. Baik saat menuju ke Pantai Selatan maupun sewaktu pulang. Tiba- tiba ular raksasa itu masuk ke dalam tanah. Lalu lenyap dari pandangan.
“Bagaimana pun hebatnya ular raksasa itu, ia tidak akan mungkin berhasil melaksanakan  tugas berat itu, “ pikir Prabu Jaka disinggasananya.

Si ular raksasa yang ingin diakui sebagai anak Prabu Jaka itu, telah tiba di pantai. Ia langsung dihadang buaya putih yang membuka mulutnya  lebar- lebar dan siap menerkam mangsanya.
“Buaya putih ! Jangan terus- menerus menyengsarakan rakyat yang tak bedosa ini !” seru ular raksasa membahana.
“Kalau berani, makanlah aku !” tantang ular raksasa. Mendapat tantangan itu, biaya putih itu marah sekali. Beberapa saat kemudian terjadilah pergumulan yang sangat hebat di PAntai Selatan. Buaya putih  mengandalkan hantaman  ekornya yang panjang, keras, dan berduri seperti gergaji. Ular raksasa mengandalkan  tenaga belitannya yang sanggup meremukan batu sekeras apa pun.

Mula- mula mereka bertempur di samudera. Ular raksasa merasa agak kewalahan bertempur di lautan bebas, karena tenaga buaya putih sangat luar biasa. Kemudian ular raksasa memancing lawannya supaya melanjutkan pertempuran di darat. Ular raksasa pura- pura melarikan diri ke darat.
“Hai ular pengecut, kucincang kau ! teriak buaya putih sambil mengejar ular raksasa ke darat.
Setelah mereka berada di darat, tiba- tiba ular raksasa berbalik menyerang lawannya. Terjadilah pergulatan  seru. Mereka bertarung mati- matian.
Di darat, ular raksasa lebih unggul. Buaya putih menyaari hal itu. Ia berusaha melanjutkan pertarungan di lautan lagi. Ular raksasa tidak mau membuang- buang waktu. “ Sekarang saatnya kau mati dalam belitanku !” geram ular raksasa sambil membelit tubuh buaya putih dengan gesitnya.
“Ampun, ampun ! Lepaskan aku!”pekik buaya putih dalam belitan ular raksasa. Namun ular raksasa itu tidak mau melepaskan belitannya, bahkan belitannya semakin kuat. Buaya putih menggelapar-gelapar. Akhirnya ia mati dengan tubuh luluh lantak. Kemudian ular raksasa menggigit leher lawannya sampai putus. Ular raksasa langsung masuk ke dalam tanah, sambil membawa kepala buaya putih di mulutnya.

Dalam perjalanan pulang ke Medang Kamulan, ular raksasa mempergunakan jalan di bawah tanah.
“Oh, apakah aku salah arah ?”ular raksasa bertanya kepada dirinya sendiri. Berkali- kali ular raksasa itu muncul di permukaan tanah, mengira  sudah   tiba di Medang Kamulan, tetapi ternyata  ia muncul di tempat lain. Ia bingung dan tersesat.
Konon , sejak saat itulah di daerah Jawa Tengah timbul beberapa mata air baru, dari bekas lubang munculnya ular raksasa itu. Airnya asin, karena mengalir dari laut selatan sesuai jalur perjalanan pulang ular raksasa.

Sementara itu Prabu Jaka mengira nahwa ular raksasa telah mati dibunuh buaya putih. Tiba- tiba seorang hulubalang datang menghadap. “Ampun, Gusti Prabu. Ular raksasa sudah tiba di Medang Kamulan.”
Prabu Jaka terperanjat. Kemudian ia langsung menemui ular raksasa. Ular raksasa membuka mulutnya lebar- lebar, lalu memuntahkan kepala buaya putih tepat di depan Prabu Jaka.
“Hamba linglung atau bingung dalam perjalanan pulang, sehingga  terlambat datang di Medang Kamulan ini,”kata ular raksasa penuh hormat. Prabu Jaka terpaksa mengakui ular raksasa sebagai anaknya.
“Mulai sekarang kau boleh tinggal di istana,” kata Prabu Jaka kepada anaknya. Sejak saat itu ular raksasa tinggal di istana Medang Kamulan. Namun, ia tidak lama tinggal di istana. Prabu Jaka menganjurkan agar ular raksasa bertapa di hutan Klampis. Ular raksasa patuh kepada perintah ayahnya. Ia bertapa di hutan itu dan kemudian dikenal dengan nama Pangeran Klampis. Rakyat Medang Kamulan merasa lega Pangeran Klampis meninggalkan istana kerajaan. Mereka sangat takut akan kehadiran Pangeran Klampis yang berwujud ular raksasa.

K
esulitan sebesar apapun dapat kita hadapi, asalkan mau berusaha dan mempunyai kekuatan yang mantap. Jangan berhenti berusaha, sampai mendapat apa yang kita cita- citakan. Marilah kita hadapi tantangan dengan terus berjuang tanpa kenal lelah. Itulah inti kisah cerita ini, adik- adik.


Malin Kundang


A
dik- adik, kali ini kakak ingin bercerita kisah dari kota Padang, persisnya di sebelah Selatan. Di sana terdapat pantai dan namanya Pantai Air Manis. Di pantai itu terdapat bukit yang menjorok ke laut, yang kaki bukitnya terdiri dari batu- batu besar. Konon batu- batu besar itu adalah kapal Malin Kundang yang terdampar.
Alkisah Malin Kundang adalah anak tunggal seorang nelayan Pantai Air Manis. Sebelum lahir, Malin Kundang telah ditinggal pergi ayahnya, dan dia diasuh oleh ibunya. Malin selalu dikundang- kundang, artinya di bawa kemana saja pergi . Oleh karena itu Malin dipanggil orang dengan nama Malin Kundang.Ibunya sangat menyayangi Malin Kundang. Malin mempunyai ciri luka di keningnya akibat pernah terjatuh dan kepalanya terbentur kayu. Luka dikeningnya tetap berbekas sampai ia dewasa.
Setelah dewasa, Malin Kundang minta ijin kepada ibunya untuk pergi merantau. Ibunya mengijinkan dengan hati yang amat berat. Ia pun dibekali bungkusan nasi oleh ibunya.
“Oh Tuhan, lindungilah anak hamba dalam perjalanan,” ibu Malin Kundang memohong kepada Yang Maha Kuasa.

Demikianlah, pada suatu hari yang cerah di lepas p[antai tampak sebuah kapal mewah mendekat. Kapal itu bukan sembarang kapal. Kapal itu bertingkat- tingkat.
“Hore ! Hore !” teriak penduduk Pantai Air Manis gempar. Mereka mengira kapal itu milik raja atau pangeran.
“Bukan main gembiranya mereka menyambut kedatangan kita,” ujar istri Malin Kundang sambil memeluk suaminya. Penduduk pantai Air Manis tak henti- hentinya mengelu-elukan kedatangan Malin Kundang. Mereka saling berdesak-desakan ingin melihat wajah kedua orang yang berdiri di anjungan kapal dengan pakaian berkilauan tertimpa cahaya matahari.

“Anakku, Malin Kundang !” seru Ibu Malin Kundang sambil menahan isak tangis. Malin Kundang terpana melihat wanita tua yang langsung memeluknya.
“Wanita buruk ini, istri kanda?” kata istri Malin Kundang dengan nada kecut. Mendengar kata istrinya, Malin Kundang langsung mendorong wanita tua, yang peyot, bongkok, hingga terguling ke pasir.
“Ibuku tidak jelek seperti engkau !” seru Malin Kundang sambil menendangnya. Istri Malin Kundang pun meludahinya. “ Ciiih .“

Banyak orang terpana, kemudian pulang ke rumah masing- masing. Ibu Malin Kundang pingsan dan terbaring sendirian.Setelah siuman, ibu Malin Kundang melihat kapal Malin Kundang berada di kejauhan. Hatinya pedih bagaikan ditusuk- tusuk. Kemuadian ia menengadahkan tangannya ke atas dan berseru,” Tuhan Yang Maha Kuasa, kalau memang benar dia anakku, Malin Kundang, aku sumpahi dia menjadi batu.”

Tak lama kemudian datanglah badai besar disertai ombak bergulung- gulung dengan bunyi  dahsyat membahana. Kejadian itu berlangsung sampai tengah malam. Ketika matahari pagi mulai tampa, badai besar itu pun reda. Di kaki bukit   pantai terlihat  kepingan kapal yang telah menjadi batu. Malin Kundang, si anak durhaka telah terkena sumpah dan menjadi batu. Di sela- sela batu berenang ikan –ikan. Konon ikan- ikan tersebut berasal dari tubuh sang istri Malin Kundang yang mencari Malin Kundang. Sedang suara   yang memilukan hati berasal dari teriakan dan ratap tangis Malin Kundang  yang meminta ampun kepada ibunya.

A
dik- adik, Malin Kundang si anak durhaka telah terkena sumpah ibunya dan menjadi batu. Demikianlah contoh nasib seorang anak yang tidak menghormati orang tuanya. Hormatilah orang tuamu dalam segala hal, dan menerima mereka apa adanya. Bila tidak, betapa tidak tahu dirinya kita dan disebut anak durhaka.



Puteri Bontar Mudar


A
dik- adik,  tinggal seorang gadis cantik bernama Bontar Mudar. Ia putrid Sunggu Mapasang. Pada suatu hari, Sunggu Mapasang ditemui manusia hantu bernama Sodungdangon. Wujudnya setengah hantu setengah manusia dan berjalan tidak menginjak tanah. N” Kedatanganku ini untuk melamar putrimu,” kata Sodungdangon kepada Sunggu Mapasang. Sunggu Mapasang bermusyawarah dengan istri dan anak- anak lain. Ternyata mereka tidak setuju jika Bontar Mudar menjadi istri Sodungdangon.
Karena lamarannya ditolak, Sodungdangon marah besar. Ia mengancam akan menghancurkan rumah seisinya beserta penghuninya, Mendengar ancaman yang mengerikan itu, Sunggu Mapasang langsung memutuskan, “Hem, saya tidak keberatan memberikan Bontar Mudar menjadi istri tuan.”
Betapa senangnya Sodungdangon mendengar jawaban Sunggu Mapasang itu. Ia berjanji akan membangun rumah yang bagus dan deisinya. Setelah itu Sodungdangon kembali untuk merayakan perkawinannya.

Namun apa yang terjadi? Ternyata Sodungdangon tak pernah kembali. Sementara itu, tersebutlah seorang putera raja  bernama Pangeran BArus yang menginginkan seorang istri. Dengan berbagai cara ia memilih seorang gadis yang cocok. Namun belum juga mendapatkannya. Oleh karena itu, PAngeran Barus mencari akal yang sangat aneh. Ia membuat laying – laying dari kain sutera. Setelah selesai dibuatnya, Pangeran Barus mengeluarkan pengumuman, “ Barang siapa yang dihinggapi laying- laying kain sutera, bila seorang gadis, ia akan jadi istri,”. Pangeran Barus  bersama empat puluh pengawalnya mengikuti laying- laying kain sutera  yang telah dillepaskannya. Mereka telah membawa segala keperluan untuk merayakamn pesta perkawinan.

Banyak gadis yang berharap dihinggapi laying- laying Pangeran Barus. Namun tak satupun mendapat keberuntungan. Mereka hanya dilewati saja. Layang- laying kain sutera terbang menjulang tinggi di angkasa  dan tibalah di atas desa Bakkara. Karena tempat itu berupa jurang, hilanglah laying- layang itu dari pandangan mata Pangeran Barus beserta pengawalnya.
“Cari sampai ketemu!” perintah Pangeran Barus kepada pengawalnya. Mereka segera menuruni jurang.

Saat para pengawal sedang berusaha keras mendapatklan laying- laying kain sutera, Pangeran Barus dengan khusuk memohon kepada Sang Pencipta,” Hamba mohon tunjukkanlah siapa yang telah dihinggapi laying- laying kain sutera,” Sehabis Pangeran Barus berdoa, tiba- tiba muncul seorang gadis sedang membawa air pancuran. Gadis itu sangat cantik dan rambutnya mayang terurai.
“Maaf, dik. Apakah saya bisa minta tolong?”sapa PAngeran Barus kepada gadis itu.
“Kenapa, tuan?” balas gadis itu mengumbar senyum.
“Saya sangat haus. Berikan seteguk air untukku,”pinta Pangeran Barus  memberanikan diri. Gadis itu tidak keberatan memberikan air. Lantas Pangeran Barus minum dengan sepuasnya. Mereka pun saling berkenalan. Gadis itu bernama Bontar Mudar anak Sunggu Mapasang.

Pangeran Barus menjelaskan kedatangan di desa Bakkara yaitu mengejar layang- layang kain sutera yang diterbangkannya, namun akhirnya kehilangan jejak. Padahal barang siapa yang telah menemukannya bila seorang gadis akan dijadikannya istri.
“Mengapa kamu termenung dik,” tegur Pangeran Barus.
“Begini. Hambalah yang telah menemukan layang- layang yang dimaksud tuan,”jelas Bontar Mudar memberanikan diri.
“Oh, Sang Pencipta. Inilah calon istri hamba,” ucap syukur Pangeran Barus sambil bersujud. “ Sekarang bawalah aku ke rumah orang tuamu. Sebab ada 40 pengawalku yang membawa segala keperluan untuk menyelenggarakan pesta perkawinan.
Pangeran Barus segera menghadap orang tua Bontar Mudar. Sunggu Mapasang sangat terkejut bercampur rasa bahagia mendengar Pangeran Barus akan menikahi putrinya. Maka dengan segera diadakan pesta perkawinan yang sangat meriah. Setelah Bontar Mudar dibawa ke istana kerajaan. Saat rombongan itu tiba di tengah hutan, mereka dihadang makhluk aneh  bernama Sodungdangon.
“Keparat! Kau merampas calon istriku!” teriak Sodungdangon sambil melompat dan tepat berada di hadapan Pangeran Barus. Pangeran Barus menghadap keadaan yang genting itu dengan tenang.

Sodungdangon berusaha merebut Bontar Mudar dari sisi Pangeran Barus. Pangeran Barus sekuat tenaga mempertahankannya. Terjadilah pertarungan seru. Mereka saling mengadui kesaktian. Ternyata tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Sodungdangon mengambil jalan pintas. “ Kalau kau mengaku bahwa gadis di sampingmu adalah istrimu, sekarang giliranku menghabisi istrimu! Dengan begitu, kau akan hidup bersama mayatnya !” Saat itu pula Bontar Mudar ditusuk dengan pedang sakti dan tewas seketika.

Pangeran Barus sangat sedih melihat istrinya sudah menjadi mayat. Namun, atas kehendak yang Maha Kuasa , Bontar Mudar berbisik halus, “Suamiku. Masukkan mayatku ke dalam peti. Tunggui tujuh hari tujuh malam sambil berdoa, aku akan hidup kembali.” Mendengar bisikan halus itu, Pangeran Barus segera memerintahkan pengawalnya membuat peti. Setelah peti selesai dibuat, mayat Bontar Mudar dimasukkan ke dalam peti dan segera dibawa ke istana.

Selama tujuh hari tujuh malam mayat Bontar Mudar berada di dalam peti. Pangeran Barus selalu berdoa memohon kepada Sang Pencipta  agar apa yang dikatakan istrinya menjadi kenyataan. Tibalah hari ketujuh. Peti dibukla  dan terjadilah suatu keajaiban,Putri Bontar Mudar hidup kembali.
“Istriku!” pekik Pangeran Barus kegirangan.
“Suamiku !” balas Bontar Mudar penuh haru. Mereka saling berpelukan erat, bagaikan tidak mau lepas. Mulai saat itu mereka membagun keluarga bahagia dan sejahtera.

A
duh senangnya ya adik- adik. Akhirnya kedua pasangan itu bersama lagi. Nah adik- adik, jika sedamg mencapai cita- cita dan kita menggunakan berbagai cara tetapi gagal, hendaklah kita tidak jemu untuk mencoba terus sampai dapat menemukan cara atau jalan yang jitu sehingga cita-cita yang didambakan dapat diraih.



Sunan Drajat


S
unan Drajat adalah putera Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati. Adiknya bernama Raden Makdum Ibrahim yang dikenal dengan nama Sunan Bonang. Nama asli Sunan Drajat adalah Raden Qosim, ia tekun mempelajari ilmu agama dari ayahandanya sendiri. Setelah dewasa, Raden Qosim diminta ayahnya untuk berdakwah di sebelah barat Gresik. Di sana belum ada ulama yang menyebarkan agama Islam. Sebelum memulai perjalanan, Raden Qosim singgah di Pesantren Sunan Giri di Gresik untuk memohon restu. Ia kemudian naik perahu menuju ke arah Barat.

Semula angin laut mendorong perahu dengan tenang. Tiba- tiba angin bertiup kencang, lalu menjadi badai yang dahsyat. Kilat sambung- menyambung. Raden Qosim selalu tak henti-hentinya berdoa memohon perlindungan Allah. Sebenarnya, Raden Qosim selalu mengucapkan zikir. Dengan berzikir, hati seorang akan bertambah dekat dengan Allah.
Perahu yang ditumpangi Raden Qosim akhirnya dihantam gelombang besar. Perahu itu oleh, lalu menghantam batu karang yang eras. Raden Qosim nyaris tewas jika saja tidak mendapat pertolongan dari Allah.
“Hamba datang karena melihat perahu Raden Qosim mengalami musibah. Hamba hendak mengantarkan Raden ke tempat tujuan. Kemanakan Raden aakn pergi?” tanya ikan talang.
Raden Qosim menjelaskan bahwa ia akan pergi ke Desa Jelag di daerah Banjarwati.
“Baiklah, hamba akan mengantarkan Rade,”kata ikan talang. Raden Qosim berterima kasih seraya naik punggung ikan talang. Akhirnya, ia tiba dengan selamat di daerah Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
“Terima kasih wahai ikan talang, semoga Allah membalas kebaikanmu. Aku berjanji agar anak keturunanku tidak mengganggumu, apalagi makan dagingmu. Bila mereka melanggar janji ini, mereka akan terkena penyakit tak tersembuhkan,” ujar Raden Qosim. Sesampainya di darat, Raden Qosim bersujud syukur atas perlindungan Allah.

Kedatangan Raden Qosim disambut gembira oleh masyarakat, lebih- lebih setelah mengetahui bahwa ia adalah Putra Sunan Ampel. Raden Qosim lalu mendirikan surrau sebagai tempat berdakwah. Caranya berdakwah luwes dan ramah, sehingga dalam waktu enam bulan banyak penduduk memeluk agama Islam.
Setelah menetap selama setahun, Raden Qosim melanjutkan kegiatan dakwahnya ke sebrang selatan. Tiga tahun kemudian, ia mendapat petunjuk Allah untuk membangun tempat berdakwah yang lebih besar. Tempat yang dipilihnya agak tinggi, karena itu dinamai Dalem Dhuwur. Kalau Raden Qosim kemudian disebut Sunan Drajat, hal itu bukan saja karena pesantrennya yang di atas bukit, namun nuga oleh derajat ilmunya yang tinggi.

Dalam melaksanakan dakwah, Sunan Drajat termasuk pendukung “aliran putih”, yakni mengikuti secara murni cara- cara Nabi Muhammad SAW, tanpa campur aduk dengan adat dan kepercayaan setempat. Sunan Drajat adalah wali yang hidupnya sangat sederhana. Walaupun demikian, ia tetap berusaha mencari rejeki, yang kemudian digunakan untuk membantu orang- orang yang lebih membutuhkan. Maka ia dikenal sebagai wali dermawan. Diantara ajaran- ajarannya, yang terkenal adalah sebagai berikut :
Berilah tongkat bagi yang buta
Berilah makan bagi yang kelaparan
Berilah pakaian bagi yang telanjang
Berilah tempat berteduh kepada yang kehujanan

Sunan Drajat menggunakan kesenian daerah untuk berdakwah. Di museumnya, tersimpan seperangkat gamelan yang pernah dipakainya. Sunan Drajat juga telah menciptakan Gending Pungkur yang hingga kini masih disukai orang- orang Jawa. Maksud ajaran Sunan Drajat itu adalah :
Pertama, agar kita sebagai manusia suka memberi petunjuk kepada yang kita tidak tahu atau tidak mengerti suatu hal. Memberikan pengertian dengan sabar dan telaten adalah satu cara yang harus digunakan orang tua dan guru untuk mendidik anak- anak.
Kedua, hendaklah kita dengan tulus ikhlas memberi pertolongan kepada yang miskin atau kekurangan makan, tanpa memperhatian suku, agama, asal-usul dan keturunan. Bantuan itu, Insya Allah, akan menghindarkan orang dari perbuatan jahat yang dilarang agama.
Ketiga, ialah ajakan bagi orang yang belum berperilaku sopan santun dan lemah lembut. Dalam kehidupan sehari – hari, kita tentu sering menemui orang yang kasar, kurang sopan, tidak acuh pada orang lain dan suka mementingkan diri sendiri. Menjadi tugas kitalah untuk memberi contoh bagaimana bersikap saying, sopan dan menghargai orang lain.
Keempat ialah bila ada orang yang ditimpa bencana, kesulitan atau menderita kekurangan, hendaklah kita dengan senang hati memberi bantuan dan perlindungan.

Sesungguhnya, empat ajaran Sunan Drajat adalah hal- hal yang perlu dilaksanakan setiap orang. Pemeluk agama apa pun seyogyanya berusaha untuk melaksanakan ajaran itu. Terlebih- lebih para orang tua, guru, maupun para pemimpin, agar mereka dapat menjadi teladan bagi anak- anak dan rakyat kecil.

A
dik- adik, hendaklah kita selalu menunjukkan sikap dermawan, kasih saying, mau membantu orang yang menderita dan bersedia memberikan bimbingan kepada orang yang belum mengetahui kebenaran yang hakiki.

Ken Arok


D
ahulu kala, di pantai barat Semenanjung Melayu, terdapat sebuah kerajaan bernama Bintan. Pada waktu itu ada seorang anak laki- laki bernama Hang Tuah. Ia adalah anak yang sangat rajin, selalu membantu pekerjaan orang tuanya, yakni mencari  kayu di hutan. Karena itu ia menjadi tangkas, cekatan dan pemberani. Hang Tuhan mempunyai empat orang kawan, yaitu Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu dan Hang Kesturi. Ketika mengijak remaja, mereka bermain bersama ke laut. Mereka ingin menjadi pelaut yang ulung.  Menjadi nahkoda, dan membawa kapal ke negeri- negeri  yang jauh.

Pada suatu hari, mereka bermain di laut sampai ke tengah. “Hey lihat. Ada tiga buah kapal !”seru Hang Tuah kepada teman- temannya. Ketiga kapal itu masih berada di kejauhan , sehingga mereka belum melihat jelas tanda- tandanya. Ketiga kapal itu semakin mendekat.“ Lihat bendera itu !Bendera kapal perompak! Bajak laut!” seru Hang Jebat sambil menunjuk ke tiga kapal itu. “Kita lawan mereka sampai titik darah penghabisan!” tandas Hang Kesturi mantap. “ Benar!” sahut Hang Lekir.
Ketiga kapal perompak itu mendekatu perahu kecil Hang Tuah dan teman- temannya. “ Kita segera mencari pulau dan mendarat. Di daratan kita lebih leluasa bertempur!” kata Hang Tuah mengatur siasart. Mereka segera menuju sebuah pulau. Ketiga kapal perompak tetap mengejarnya. Perahu kecil Hang Tuah melaju sangat cepat sehingga ketiga kapal perompak itu tak dapat mengejar mereka. Setelah mendarat, Hang Tuah mengatur siasat. Keris bertuah siap menghunus lawan. Mereka pun menantang para perompak untuk bertempur.

Pertempuran antara Hang Tuah dan teman- temannya melawan para perompak berlangsung seru. “Awas seranganku !” Ayo rasakan kerisku!” teriak Hang  Tuah. Keris Pusaka Hang Tuah adalah peninggalan nenek moyangnya. Mendengar tantangan Hang Tuah itu, kepala perompak yang berbadan tinggi besar tertawa terbahak- bahak sambil berkata,”Hey,anak kecil! Menyerahlah ! Ayo, letakkan pisau dapurmu!” Hang Tuah sangat tersinggung mendengar kata- kata itu. Ia langsung melompat dan dengan gesit menikam sang kepala perompak. Kepala perompak itu pun langsung tewas. Teman- teman Hang Tuah mengamuk bagaikan banteng luka. Dalam waktu singkat, sepulu orang perompak mati, lima orang terluka lau ditawan. Lainnya melarikan diri, lari ke kapal. Dengan segera, ketiga kapal perompak itu meninggalkan pulau.

Setelah Hang Tuah dan teman- temannya melumpuhkan para perompak, mereka lalu menghadap Sultan Bintan. Sebagai bukti, mereka menghadapkan kelima tawanan. Akhirnya Hang Tuah dan teman- temannya diberi pangkat dalam lascar kerajaan. “ Semua pasukan kerajaan bersatu-padu menjaga keamanan negeri. Negeri lain tidak ada yang berani menyerangnya. Negeri Bintan menjadi makmur dan Hang Tuah dijadikan pemimpin sebuah armada.

Beberapa waktu kemudian, Sultan Bintan ingin mempersunting Puteri Majapahit di pulau Jawa. “Aku minta disiapkan armada untuk perjalanan ke Majapahit.” Kata Sultan kepada Hang Tuah. Hang Tuah segera membentuk sebuah armada tangguh. Setelah segera membentuk sebuah armada tangguh. Tujuannya adalah kota Tuban di pantai Utara Jawa Timur, yang merupakan pelabuhan utama milik Majapahit. Hang Tuah memang pelaut ulung. Tak lama kemudian mereka telah sampai di Majapahit. Raja Majapahit sangat senang menerima pinangan Sultan Bintan. Pesta perkawinan berlangsung empat puluh hari, empat puluh malam. Kedua negeri ini sangat bersahabat, tidak saling bermusuhan.

Setelah selesai perhelatan perkawinan, Sultan dan permaisurinya kembali ke Malaka. Hang Tuah diangkat menjadi  Laksamana. Ia memimpin armada seluruh kerajaan. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Para perwira istana menjadi iri. “ Hang Tuah menjadi manja. Hidupnya sangat mewah, suka berfoya-foya, menghamburkan  uang Negara!” kata mereka. Akhirnya Sultan pun termakan hasutan mereka dan memecat Hang Tuah. Hang Tuah juga dipecat, bahkan dituduh hendak memberontak terhadap Negara.
Hang Jebat terkejut mendengar Hang Jebat menjadi pemberontak Negara. Ia pahlawan sejati. Biar pun ia dipecat Sultan, ia tidak sakit hati. Ia mendatangi Hang Jebat hendak menasihati. Tetapi rupanya siasat adu domba yang dilakukan para perwira kerajaan sudah mendalam. Mereka malah bertengkar  dan berkelahi. Naas bagi Hang Jebat. Ia tewas di tangan Hang Tuah sendiri. Hang Tuah sangat menyesal. Tetapi bagi Sultan, Hang Tuah malah dianggap pahlawan. Hang Tuah menyelamatkan negeri dari pemberontakan.
“ Kau kuangkat kembali menjadi laksamana,”kata Sultan kepada Hang Tuah. Sejak itu Hang Tuah kembali memimpin angkatan laut kerajaan.

Pada suatu hari Hang Tuah diutuis ke negeri India, untuk membangun persahabatan dengan India. Dan di India Hang Tuah diuji kesaktiannya oleh Raja India untuk menaklukan kuda binal. Akirnya, Hang Tuah dapat menjinakkannya. Raja India dan perwiranya sangat kagum. Setelah pulang dari India, Hang Tuah menerima tugas ke Cina. Kaisarnya bernama Khan. Dalam kerajaan itu tak seorangpun  boleh memandang langsung muka sang kaisar. Ketika di jamu oleh Kaisar Khan di istana, Hang Tuah minta disediakan sayur kangkung. Ia duduk di depan Kaisar Khan. Pada waktu makan, Hang Tuah mendongak untuk memasukkan  sayur kangkung ke mulutnya. Dengan demikian ia dapat melihat wajah kaisar.
Para perwira Kaisar Khan marah dan hendak mennagkap Hang Tuah, namun Kaisar Khan mencegahnya karena ia sangat kagum pada kecerdikan Hang Tuah.

Sekali lagi Hang Tuah mendapat tugas berat, yaitu membasmi para perompak di LAut Cina Selatan. Kembali Hang Tuahn menjalankan tugasnya. Namun semua kepahlawan itu  ada akhirnya. Sebuah armada datang dari arah barat, dipimpin seorang admiral yang terkenal bernama D’Almeida. Armada ini sangat kuat. Hang Tuah dan pasukannya segera menghadang. Pertempuran sengit segera terjadi. Ketika itulah Hang Tuah gugur membela tanah airnya.
Tetapi semangat Hang Tuah tidak akan pernah mati. Ia menjadi pahlawan pujaan di Indonesia dan Malaysia. Ia pahlawan laut yang terbesae dab seorang Laksamana yang gagah berani. Sekarang ini sebuah kapal perang Republik Indonesia dinamakan “ KRI Hang Tuah”. Semoga nama itu membawa Tuah, yang artinya berkah.

P
erjuangan membela tanah air telah ditunjukkan oleh kepahlawanan Hang Tuah yang gagah berani, tangkas, cerdas dan pantang menyerah. Sifat itulah yang sebenarnya membawa tuah atau kebahagiaan. Marilah kita teladani dan teruskan perjuangan Hang Tuah.



Hang Tuah


D
ahulu kala, di pantai barat Semenanjung Melayu, terdapat sebuah kerajaan bernama Bintan. Pada waktu itu ada seorang anak laki- laki bernama Hang Tuah. Ia adalah anak yang sangat rajin, selalu membantu pekerjaan orang tuanya, yakni mencari  kayu di hutan. Karena itu ia menjadi tangkas, cekatan dan pemberani. Hang Tuhan mempunyai empat orang kawan, yaitu Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu dan Hang Kesturi. Ketika mengijak remaja, mereka bermain bersama ke laut. Mereka ingin menjadi pelaut yang ulung.  Menjadi nahkoda, dan membawa kapal ke negeri- negeri  yang jauh.

Pada suatu hari, mereka bermain di laut sampai ke tengah. “Hey lihat. Ada tiga buah kapal !”seru Hang Tuah kepada teman- temannya. Ketiga kapal itu masih berada di kejauhan , sehingga mereka belum melihat jelas tanda- tandanya. Ketiga kapal itu semakin mendekat.“ Lihat bendera itu !Bendera kapal perompak! Bajak laut!” seru Hang Jebat sambil menunjuk ke tiga kapal itu. “Kita lawan mereka sampai titik darah penghabisan!” tandas Hang Kesturi mantap. “ Benar!” sahut Hang Lekir.
Ketiga kapal perompak itu mendekatu perahu kecil Hang Tuah dan teman- temannya. “ Kita segera mencari pulau dan mendarat. Di daratan kita lebih leluasa bertempur!” kata Hang Tuah mengatur siasart. Mereka segera menuju sebuah pulau. Ketiga kapal perompak tetap mengejarnya. Perahu kecil Hang Tuah melaju sangat cepat sehingga ketiga kapal perompak itu tak dapat mengejar mereka. Setelah mendarat, Hang Tuah mengatur siasat. Keris bertuah siap menghunus lawan. Mereka pun menantang para perompak untuk bertempur.

Pertempuran antara Hang Tuah dan teman- temannya melawan para perompak berlangsung seru. “Awas seranganku !” Ayo rasakan kerisku!” teriak Hang  Tuah. Keris Pusaka Hang Tuah adalah peninggalan nenek moyangnya. Mendengar tantangan Hang Tuah itu, kepala perompak yang berbadan tinggi besar tertawa terbahak- bahak sambil berkata,”Hey,anak kecil! Menyerahlah ! Ayo, letakkan pisau dapurmu!” Hang Tuah sangat tersinggung mendengar kata- kata itu. Ia langsung melompat dan dengan gesit menikam sang kepala perompak. Kepala perompak itu pun langsung tewas. Teman- teman Hang Tuah mengamuk bagaikan banteng luka. Dalam waktu singkat, sepulu orang perompak mati, lima orang terluka lau ditawan. Lainnya melarikan diri, lari ke kapal. Dengan segera, ketiga kapal perompak itu meninggalkan pulau.

Setelah Hang Tuah dan teman- temannya melumpuhkan para perompak, mereka lalu menghadap Sultan Bintan. Sebagai bukti, mereka menghadapkan kelima tawanan. Akhirnya Hang Tuah dan teman- temannya diberi pangkat dalam lascar kerajaan. “ Semua pasukan kerajaan bersatu-padu menjaga keamanan negeri. Negeri lain tidak ada yang berani menyerangnya. Negeri Bintan menjadi makmur dan Hang Tuah dijadikan pemimpin sebuah armada.

Beberapa waktu kemudian, Sultan Bintan ingin mempersunting Puteri Majapahit di pulau Jawa. “Aku minta disiapkan armada untuk perjalanan ke Majapahit.” Kata Sultan kepada Hang Tuah. Hang Tuah segera membentuk sebuah armada tangguh. Setelah segera membentuk sebuah armada tangguh. Tujuannya adalah kota Tuban di pantai Utara Jawa Timur, yang merupakan pelabuhan utama milik Majapahit. Hang Tuah memang pelaut ulung. Tak lama kemudian mereka telah sampai di Majapahit. Raja Majapahit sangat senang menerima pinangan Sultan Bintan. Pesta perkawinan berlangsung empat puluh hari, empat puluh malam. Kedua negeri ini sangat bersahabat, tidak saling bermusuhan.

Setelah selesai perhelatan perkawinan, Sultan dan permaisurinya kembali ke Malaka. Hang Tuah diangkat menjadi  Laksamana. Ia memimpin armada seluruh kerajaan. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Para perwira istana menjadi iri. “ Hang Tuah menjadi manja. Hidupnya sangat mewah, suka berfoya-foya, menghamburkan  uang Negara!” kata mereka. Akhirnya Sultan pun termakan hasutan mereka dan memecat Hang Tuah. Hang Tuah juga dipecat, bahkan dituduh hendak memberontak terhadap Negara.
Hang Jebat terkejut mendengar Hang Jebat menjadi pemberontak Negara. Ia pahlawan sejati. Biar pun ia dipecat Sultan, ia tidak sakit hati. Ia mendatangi Hang Jebat hendak menasihati. Tetapi rupanya siasat adu domba yang dilakukan para perwira kerajaan sudah mendalam. Mereka malah bertengkar  dan berkelahi. Naas bagi Hang Jebat. Ia tewas di tangan Hang Tuah sendiri. Hang Tuah sangat menyesal. Tetapi bagi Sultan, Hang Tuah malah dianggap pahlawan. Hang Tuah menyelamatkan negeri dari pemberontakan.
“ Kau kuangkat kembali menjadi laksamana,”kata Sultan kepada Hang Tuah. Sejak itu Hang Tuah kembali memimpin angkatan laut kerajaan.

Pada suatu hari Hang Tuah diutuis ke negeri India, untuk membangun persahabatan dengan India. Dan di India Hang Tuah diuji kesaktiannya oleh Raja India untuk menaklukan kuda binal. Akirnya, Hang Tuah dapat menjinakkannya. Raja India dan perwiranya sangat kagum. Setelah pulang dari India, Hang Tuah menerima tugas ke Cina. Kaisarnya bernama Khan. Dalam kerajaan itu tak seorangpun  boleh memandang langsung muka sang kaisar. Ketika di jamu oleh Kaisar Khan di istana, Hang Tuah minta disediakan sayur kangkung. Ia duduk di depan Kaisar Khan. Pada waktu makan, Hang Tuah mendongak untuk memasukkan  sayur kangkung ke mulutnya. Dengan demikian ia dapat melihat wajah kaisar.
Para perwira Kaisar Khan marah dan hendak mennagkap Hang Tuah, namun Kaisar Khan mencegahnya karena ia sangat kagum pada kecerdikan Hang Tuah.

Sekali lagi Hang Tuah mendapat tugas berat, yaitu membasmi para perompak di LAut Cina Selatan. Kembali Hang Tuahn menjalankan tugasnya. Namun semua kepahlawan itu  ada akhirnya. Sebuah armada datang dari arah barat, dipimpin seorang admiral yang terkenal bernama D’Almeida. Armada ini sangat kuat. Hang Tuah dan pasukannya segera menghadang. Pertempuran sengit segera terjadi. Ketika itulah Hang Tuah gugur membela tanah airnya.
Tetapi semangat Hang Tuah tidak akan pernah mati. Ia menjadi pahlawan pujaan di Indonesia dan Malaysia. Ia pahlawan laut yang terbesae dab seorang Laksamana yang gagah berani. Sekarang ini sebuah kapal perang Republik Indonesia dinamakan “ KRI Hang Tuah”. Semoga nama itu membawa Tuah, yang artinya berkah.

P
erjuangan membela tanah air telah ditunjukkan oleh kepahlawanan Hang Tuah yang gagah berani, tangkas, cerdas dan pantang menyerah. Sifat itulah yang sebenarnya membawa tuah atau kebahagiaan. Marilah kita teladani dan teruskan perjuangan Hang Tuah.