|
“K
|
ira-kira pukul
satu siang, dua anak muda pulang dari sekolah. “ Hem, bukan main anak laki-
laki itu, kulitnya kuning langsat, rambut dan matanya hitam bagai dawat,
hidungnya mancung, wajahnya jernih dan tenang,” kata seorang wanita yang
mengagumi Samsubahri anak Sultan Mahmud
Syah seorang penghulu di Padang, begitu juga kekaguman seorang lelaki yang
melihat wanita muda yang hidungnya mancung, bibirnya halus, dagunya bak lebah
bergantung,pipinya bak pauh dilayang. Dia adalah Siti Nurbaya, anak saudagar bernama Baginda
Sulaiman.
“Nur, apakah pak
Ali kita lupa untuk menjemput ?”tanya Samsubahri kepada Siti Nurbaya. Mereka
sedang menunggu jemputan bendi Pak Ali. Tak lama kemudian datanglah pak Ali
dengan bendinya, mereka segera naik bendi Pak Ali. Tak lama mereka di rumah
Sultan Mahmud Syah, orang tua Samsubahri itu
sedang menerima tamu yang usianya
telah lanjut, buruk rupak, rambutnya mulai memutih. Ia adalah saudagar Datuk Maringgih. Setelah bercakap- cakap agak
lama, Datuk Maringgih segera meninggalkan rumah
Sultan Mahmud Syah. Samsubahri keluar dari biliknya dan telah memakai
baju Cina putih, celana genggang. Ia mendengar percakapan ayahnya dengan Datuk
Maringgih.” Kalau aku tak dapat pinjaman dari Engku Datuk Maringgih, pasti aku
terpaksa men menjual sawah pusaka,” kata Sutan Mahmud Syah kepada Samsubahri.
Mereka bercakap-cakap membicarakan usaha Sultan Mahmud Syah, di saat itu pula
Samsubahri minta ijin untuk pergi ke Gunung Padang.
Tibalah hari
yang telah ditentukan yaitu hari Ahad. Samsubahri, Arifin, Bakhtiar, dan Siti
Nurbaa pergi ke Gunung Padang. Mereka bermain- main mencari jambu keliling,
Samsubahri dan Siti Nurbaya semakin akrab, bahkan berkasih- kasihan.
“Nur, tidak lama
lagi aku harus meninggalkan Padang untuk menuntut ilmu ke Jakarta,” kata
Samsubahri kepada Siti Nurbaya yang membuat Siti Nurbaya tersentak. Pada
awalnya Siti Nurbaya keberatan akan tetapi ia melepas kekasih hatinya itu
pergi. Sepulang dari Gunung Padang, Samsubahri segera bersiap untuk menuntut
ilmu ke Jakarta. Tibalah saatnya Samsubahri segera bersiap untuk menuntut ilmu
ke Jakarta. Tibalah saatnya Samsubahri berangkat ke Jakarta setelah memohon doa
restu dari orang tuanya dan berpamitan pada teman- temannya. Jalinan kasih
antara Samsubahri dan Siti Nurbaya agak renggang setelah perpisahan itu.
Pada suatu hari
datanglah Datuk Maringgih Saudagar kaya itu ke rumah Baginda Sulaiman. Baginda
Sulaiman menceritakan kesultan usahanya selama ini kepada Datuk Maringgih.
Datuk Maringgih mendengarkannya dengan seksama.
“Yang penting
Baginda Sulaiman segera mendapat uang sebagai modal usaha dan aku akan berusaha
menolong dan aku akan berusaha menolong,”tandas Datuk Maringgih meyakinkan.
Baginda Sulaiman
sangat berterima kasih kepada Datuk Maringgih yang dianggapnya sebagai dewa penolong.
Setelah menerima uang pinjaman, segeralah Baginda Sulaiman menggunakan uang
pinjaman sebagai modal usaha. Namun setelah berjalan selama tiga bulan,
ternyata usahanya terus- menerus merugi, akhirnya modalnya habis.
Pada awalnya
Baginda Sulaiman tak mengetahui akal jahatnya Datuk Maringgih, tetapi setelah
ia mengetahuinya menyesallah Baginda Sulaiman. “ Sekarang tiada yang dapat
diharapkan lagi, aku tahu siapa Datuk Maringgih, dia bukan sahabatku yang baik,
dia mengail dalam belanga, menggunting dalam lipatan,” kata Baginda Sulaiman
dengan gemetar. Siti Nurbaya pun tidak habis pikir, mengapa derita yang
dialaminya tak kunjung selesai.
Dengan akal
liciknya, setelah mengetahui Baginda Sulaiman bangkrut, Datuk Maringgih segera
menagih uang yang dipinjamkan. “Sekarang sudah saatnya Tuan Baginda Sulaiman
mengembalikan uang itu,” kata Datuk Maringgih dengan melotot. Baginda Sulaiman
meminta kelonggaran waktu, namun Datuk Maringgih tetap meminta hutang itu
dibayar tepat waktunya,kalau tidak Baginda Sulaiman akan dijebloskan ke
penjara.
Walaupun telah
memohon kelonggaran waktu, tetapi Datuk Maringgih tak mengabulkan permintaan
itu, dan sebagai gantinya ia minta anak Baginda Sulaiman sebagai istrinya.
“Jahanam!, orang
tua itu tiada berbudi, ingalah akan rupa dan umurnya, ingin memintaku sebagai
istrinya,” kata Siti Nurbaya dengan geram. Baginda Sulaiman segera menghibur
dan mententramkan hati anaknya.
“Aku tahu Nur,
engkau tidak suka dengan Datuk Maringgih, kelak jodohmu akan sebanding dengan
engkau” Mendengar tutur kata ayahnya, Siti Nurbaya meneteskan air mata.
Dengan perasaan
kecewa Siti Nurbaya akhirnya bersedia menjadi istri Datuk Maringgih. “ Anakku
menyerahkan diri kepadamu, untuk memuaskan hatimu,” kata Baginda Sulaiman
dengan geram.
“Sekarang
barulah aku mengerti bahwa kejatuhanku semata- mata karena perbuatan busuk
hatimu,” tambahnya. Datuk Maringgih tetap tak bergeming untuk mempersunting
Siti Nurbaya dengan alasan Baginda Sulaiman tidak menepati janji dan tidak
sanggup melunasi hutang- hutangnya.
Sungguh besar
penderitaan dan pengorbanan Siti Nurbaya demi martabat ayahnya. Dia menjadi
istri Datuk Maringgih seorang saudagar kaya yang usianya sudah lanjut, dan
rupanya buruk. Namun dengan kekuasaan uangnya ia bisa mendapatkan segalanya
yang ia sukai, walaupun mengakibatkan penderitaan orang lain.
|
W
|
ah, kasihan ya
adik- adik nasib Siti Nurbaya. Ia mengorbankan dirinya demi menjunjung tinggi
kehormatan dan martabat ayahnya. Sebagai seorang anak, ia patuh dan hormat
kepada orang tua. Bagaimana dengan adik- adik terhadap orang tua kalian?

0 komentar:
Posting Komentar