RSS

Roro Mendut


A
dik- adik, cerita kakak kali ini datang dari Jawa Tengah. Alkisah, di sebuah desa jauh terpencil yang bernama Trenbanggi, tinggallah seorang janda yang mempunyai anak gadis bernama Mendut. Mendut seorang gadis yang cantik jelita, bagai sekuntum bunga yang semakin hari semakin merekah dan mengharumkan. Keharumannya akhirnya tercium oleh Gusti Adipati Pragola, yang berkuasa di Pati. Beliau sudah berusia lanjut. Beristri satu dan mempunyai selir lebih dari satu. Namun, rupanya masih berminat mempunyai selir lagi.
“Bu, saya tidak mau menjadi selir Adipati Pragola,” kata Mendut kepada ibunya. Ibunya bingung mendengar ucapan anaknya, karena ia pun tidak berani menyampaikannya kepada Adipati Pragola. Ia takut kena marah, atau bahkan dihukum oleh Adipati Pragola.

Dengan berat hati, Ibu Mendut melepas kan anak kesayangannya itu untuk menjadi selir Adipati Pragola. Di sana, Mendut mendapat tambahan dengan sebutan “ Roro”.
Namun malang nasib Adipati Pragola. Sebelum ia sempat meresmikan Roro Mendut sebagai selirnya, tiba- tiba balatentara Mataram datang menggempur.Balatentara Mataram dipimpin Tumenggung Wiroguno sangat tangguh. Adipati Pragola beserta sejulah pengikutnya tewas. Ternyata, Tumenggung Wiroguno sangat tertarik akan kecantikan Roro Mendut. Nyai Ajeng, istri Sang Tumenggung juga setuju jika Roro Mendut dijadikan selir. Roro Mendut yang mengetahui akan dijadikan selir, segera menolaknya.

Nyai Ajeng istri Tumenggung Wiroguno membujuk Roro Mendut agar bersedia menjadi selir suaminya.
“Percayalah Mendut, engkau bukan hanya diangkat menjadi selir saja. Engkau malah diangkat menjadi penggantiku. Aku sudah tua, sudah keriput. Kanda Wiroguno meskipun sudah tua, tetapi semangatnya masih muda. Dari dirimulah diharapkan lahir keturunan sebagai pewaris kebesarannya,” demikian bujuknya. Tetapi Roro Mendut tetap ngeri melihat perangai Tumenggung Wiroguno. Ia bagaikan terlepas dari mulut singa, lalu masuk ke mulut buaya. Roro Mendut terisak menahan tangis meratapi nasibnya.
“Dasar anak dusun tidak tahu diuntung !”umpat Tumenggung Wiroguno kesal. Karena marahnya, Tumenggung Wiroguno mengharuskan Roro Mendut membayar pajak kepadnya, sehari tiga real. Bila Roro Mendut tidak dapat memenuhinya, maka ia akan dihukum. Wiroguno     sesungguhnya tidak meng harapkan  uang tiga real sehari. Ia hanya menggertak gadis malang itu. Ia yakin Roro Mendut tidak akan mampu memenuhinya. Roro Mendut dengan berbesar hati sanggup memenuhi permintaan Wiroguno. Ia lalu meminjam modal kepada Nyai Ajeng, istri Wiroguno.

Roro Mendut lalu berjualan rokok. Sunggu tidak disangka, rokok yang dijualnya sangat laris. Bukan rokoknya yang menarik perhatian, melainkan penjualnya yang cantik nan rupawan. Rokok Roro Mendut memang mahal, apalagi puntungnya. Semakin pendek dan basah oleh ludah Roro Mendut, harga punting itu semakin tinggi. Karena larisnya, Roro Mendut dapat memenuhi permintaan Tumenggung Wiroguno. Setiap hari ia menyerahkan uang tiga real. Melihat hal itu, Tumenggung Wiroguno menjadi jengkel. Ia menaikkan pajak yang harus dibayar Roro Mendut menjadi dua puluh lima real sehari. Ternyata Roro Mendut pun masih dapat menyanggupinya.

Konon, dari sekian banyak pembeli rokok terdapat Pronocitro, seorang pemuda tampan yang gemar mengadu ayam. Hati pemuda itu terpaut pada kecantikan Roro Mendut, begitu pula sebaliknya. Pronocitro juga tak gentar menghadapi Tumenggung Wiroguno.
“Aku harus mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Roro Mendut dari kekejaman Wiroguno,”pikir Pronocitro. Roro Mendut menganjurkan agar Pronocitro melamar menjadi abdi Tumenggung Wiroguno. Dengan demikian mereka dapat lebih sering bertemu untuk melepas kerinduan.
Pronocitro segera menghadap Tumenggung Wiroguno untuk melamar menjadi abdinya.
“Aku menerima lamaranmu, dan segeralah bekerja,” kata Wiroguno kepada Pronocitro. Ia resmi menjadi abdi Tumenggung Wiroguno, Roro Mendut pun menemui Nyai Ajeng. Ia memberitahukan niatnya untuk berhenti berjualan rokok dan berpura- pura bersedia menjadi selir Wiroguno. Ini adalah siasat Roro Mendut agar selalu dekat dengan Pronocitro. Nyai Ajeng sangat senang mendengar keputusan itu. Namun Roro Mendut meminta untuk menunda peresmiannya dengan alasan menunggu hari baik. Nyai Ajeng pun setuju.

Pronocitro kini telah menjadi abdi yang dapat dipercaya. Dengan siasat itu, setiap saat ia dapat menemui Mendut. “ Dinda Mendut, kita harus keluar dari tempat laknat ini!” ucap Pronocitro kepada Mendut. Mendut setuju. Mereka mencari kesempatan yang baik untuk melepaskan diri dari kungkungan Wiroguno. Akhirnya mereka berhasil lari menuju ke kediaman lurah Nande. Di sana mereka bersembunyi sambil melepaskan kerinduan yang sangat dalam.

Sementara itu Tumenggung marah besar ketika mendengar Roro Mendut dan Pronocitro tidak ada di istananya. “ Kalian tidak becus menjaga Mendut! Sekarang cari mereka sampai ketemu !”perintahnya kepada semua orang.
Para pengwal serta para abdi mencari ke segala penjuru. Sebuah pasukan tangguh dipimpin oleh seorang abdi setia Wiroguno bernama Senopati menelusuri dari rumah ke rumah. Roro Mendut pun berhasil ditemukan, namun Pronocitro sudah melarikan diri. Saat itu pula, Roro Mendut langsung dibawa ke hadapan Tumenggung Wiroguno.

Pronocitro juga terus diburu dan akhirnya tertangkap. Pemuda itu juga langsung dihadapkan Tumenggung Wiroguno. Saat itu pula, Roro Mendut menjalani hukuman cambuk. Sedangkan Pronocitro tidak mau tunduk kepada perintah Wiroguno, akhirnya ditusuk dengan keris bertuah. Pronocitro tidak mengaduh, hanya berkata tersendat- sendat kepada Mendut, “ Dinda, jagalah dirimu baik- baik. Percayalah, cintaku akan abadi sampai di alam baka.”
Pada saat Wiroguno mencabut keris yang tertancap di tubuh Pronocitro, di luar dugaan Mendut langsung menubruk keris itu sehingga menembus dadanya. Roro Mendut tewas menyusul pemuda yang dicintainya. Jasad mereka dimakamkan ke dalam satu liang kubur.

K
esetiaan dan cinta sejati diwujudkan ke dalam suatu pengorbanan yang tiada tara. Ini dilakukan Pronocitro dan Mendut yang telah membangun kasih sayang bersama. Cinta sejati tidak pernah kalah oleh ketamakan dan kebengisan.


Siti Noerbaya


“K
ira-kira pukul satu siang, dua anak muda pulang dari sekolah. “ Hem, bukan main anak laki- laki itu, kulitnya kuning langsat, rambut dan matanya hitam bagai dawat, hidungnya mancung, wajahnya jernih dan tenang,” kata seorang wanita yang mengagumi  Samsubahri anak Sultan Mahmud Syah seorang penghulu di Padang, begitu juga kekaguman seorang lelaki yang melihat wanita muda yang hidungnya mancung, bibirnya halus, dagunya bak lebah bergantung,pipinya bak pauh dilayang. Dia adalah Siti  Nurbaya, anak saudagar bernama Baginda Sulaiman.
“Nur, apakah pak Ali kita lupa untuk menjemput ?”tanya Samsubahri kepada Siti Nurbaya. Mereka sedang menunggu jemputan bendi Pak Ali. Tak lama kemudian datanglah pak Ali dengan bendinya, mereka segera naik bendi Pak Ali. Tak lama mereka di rumah Sultan Mahmud Syah, orang tua Samsubahri itu  sedang menerima  tamu yang usianya telah lanjut, buruk rupak, rambutnya mulai memutih. Ia adalah saudagar  Datuk Maringgih. Setelah bercakap- cakap agak lama, Datuk Maringgih segera meninggalkan rumah  Sultan Mahmud Syah. Samsubahri keluar dari biliknya dan telah memakai baju Cina putih, celana genggang. Ia mendengar percakapan ayahnya dengan Datuk Maringgih.” Kalau aku tak dapat pinjaman dari Engku Datuk Maringgih, pasti aku terpaksa men menjual sawah pusaka,” kata Sutan Mahmud Syah kepada Samsubahri. Mereka bercakap-cakap membicarakan usaha Sultan Mahmud Syah, di saat itu pula Samsubahri minta ijin untuk pergi ke Gunung Padang.

Tibalah hari yang telah ditentukan yaitu hari Ahad. Samsubahri, Arifin, Bakhtiar, dan Siti Nurbaa pergi ke Gunung Padang. Mereka bermain- main mencari jambu keliling, Samsubahri dan Siti Nurbaya semakin akrab, bahkan berkasih- kasihan.
“Nur, tidak lama lagi aku harus meninggalkan Padang untuk menuntut ilmu ke Jakarta,” kata Samsubahri kepada Siti Nurbaya yang membuat Siti Nurbaya tersentak. Pada awalnya Siti Nurbaya keberatan akan tetapi ia melepas kekasih hatinya itu pergi. Sepulang dari Gunung Padang, Samsubahri segera bersiap untuk menuntut ilmu ke Jakarta. Tibalah saatnya Samsubahri segera bersiap untuk menuntut ilmu ke Jakarta. Tibalah saatnya Samsubahri berangkat ke Jakarta setelah memohon doa restu dari orang tuanya dan berpamitan pada teman- temannya. Jalinan kasih antara Samsubahri dan Siti Nurbaya agak renggang setelah perpisahan itu.

Pada suatu hari datanglah Datuk Maringgih Saudagar kaya itu ke rumah Baginda Sulaiman. Baginda Sulaiman menceritakan kesultan usahanya selama ini kepada Datuk Maringgih. Datuk Maringgih mendengarkannya dengan seksama.
“Yang penting Baginda Sulaiman segera mendapat uang sebagai modal usaha dan aku akan berusaha menolong dan aku akan berusaha menolong,”tandas Datuk Maringgih meyakinkan.
Baginda Sulaiman sangat berterima kasih kepada Datuk Maringgih yang dianggapnya sebagai dewa penolong. Setelah menerima uang pinjaman, segeralah Baginda Sulaiman menggunakan uang pinjaman sebagai modal usaha. Namun setelah berjalan selama tiga bulan, ternyata usahanya terus- menerus merugi, akhirnya modalnya habis.

Pada awalnya Baginda Sulaiman tak mengetahui akal jahatnya Datuk Maringgih, tetapi setelah ia mengetahuinya menyesallah Baginda Sulaiman. “ Sekarang tiada yang dapat diharapkan lagi, aku tahu siapa Datuk Maringgih, dia bukan sahabatku yang baik, dia mengail dalam belanga, menggunting dalam lipatan,” kata Baginda Sulaiman dengan gemetar. Siti Nurbaya pun tidak habis pikir, mengapa derita yang dialaminya tak kunjung selesai.

Dengan akal liciknya, setelah mengetahui Baginda Sulaiman bangkrut, Datuk Maringgih segera menagih uang yang dipinjamkan. “Sekarang sudah saatnya Tuan Baginda Sulaiman mengembalikan uang itu,” kata Datuk Maringgih dengan melotot. Baginda Sulaiman meminta kelonggaran waktu, namun Datuk Maringgih tetap meminta hutang itu dibayar tepat waktunya,kalau tidak Baginda Sulaiman akan dijebloskan ke penjara.

Walaupun telah memohon kelonggaran waktu, tetapi Datuk Maringgih tak mengabulkan permintaan itu, dan sebagai gantinya ia minta anak Baginda Sulaiman sebagai istrinya.
“Jahanam!, orang tua itu tiada berbudi, ingalah akan rupa dan umurnya, ingin memintaku sebagai istrinya,” kata Siti Nurbaya dengan geram. Baginda Sulaiman segera menghibur dan mententramkan hati anaknya.
“Aku tahu Nur, engkau tidak suka dengan Datuk Maringgih, kelak jodohmu akan sebanding dengan engkau” Mendengar tutur kata ayahnya, Siti Nurbaya meneteskan air mata.
Dengan perasaan kecewa Siti Nurbaya akhirnya bersedia menjadi istri Datuk Maringgih. “ Anakku menyerahkan diri kepadamu, untuk memuaskan hatimu,” kata Baginda Sulaiman dengan geram.
“Sekarang barulah aku mengerti bahwa kejatuhanku semata- mata karena perbuatan busuk hatimu,” tambahnya. Datuk Maringgih tetap tak bergeming untuk mempersunting Siti Nurbaya dengan alasan Baginda Sulaiman tidak menepati janji dan tidak sanggup melunasi hutang- hutangnya.

Sungguh besar penderitaan dan pengorbanan Siti Nurbaya demi martabat ayahnya. Dia menjadi istri Datuk Maringgih seorang saudagar kaya yang usianya sudah lanjut, dan rupanya buruk. Namun dengan kekuasaan uangnya ia bisa mendapatkan segalanya yang ia sukai, walaupun mengakibatkan penderitaan orang lain.

W
ah, kasihan ya adik- adik nasib Siti Nurbaya. Ia mengorbankan dirinya demi menjunjung tinggi kehormatan dan martabat ayahnya. Sebagai seorang anak, ia patuh dan hormat kepada orang tua. Bagaimana dengan adik- adik terhadap orang tua kalian?

Sedah Merah Putri Blambangan


A
dik- adik, siapa yang pernah mengunjungi Provinsi Jawa Timur? Ya, Betul ! Yang nama ibukotanya Surabaya.  Tahukah kalian, dahulu kala di ujung Jawa Timur ada sebuah kerajaan kecil yang berdaulat penuh. Kerajaan itu sangat terkenal karena keindahan dan kesuburan tanahnya yang bergunung dan menghadap ke laut. Pelabuhannya pun ramai dikunjungi para pedagang dari berbagai penjuru. Kerajaan itu namanya Kerajaan Blambangan.

Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Prabu Siung Laut. Sang Prabu memilik  saudara yang cukup sakti bernama Ario  Bendung, yang menjadi Adipati Asembagus. Kedua orang kakak beradik ini memiliki watak dan perilaku yang sama yakni adil dan bijaksana.
Prabu Siung Laut memerintah dengan dibantu oleh seorang patih yang sangat terkenal yaitu Jatasuro. Jatasuro ini terkenal karena ketamakannya. Ia suka merampas harta benda penduduk berbuat asusila serta merebut istri oranng lain. Banyak gadis di Kerajaan Blambangan telah menjadi korban perbuataannya yang jahat itu. Walaupun demikian, tidak ada yang berani mengadu kepada Sang Prabu Siung Laut karena takut dibunuh oelh kaki tangan Jatasuro.

Pada suatu ketika, seluruh rakyat kerajaan Blambangan menjadi gelisah karena mendengar kabar bahwa kerajaan mereka diserang oleh Kerajaan Mataram sudah siap menakhlukan kerajaan mereka.
“Bagaimana pendapatmu jika  benar kerajaan Mataram akan menyerang kita ? “tanya seorang petani.
“Jika benar demikian terjadi , kita tidak bisa tinggal diam. Kita tidak rela Blambangan dirampas oleh kerajaan lain. Pokoknya harus kita bela.”
“Ya,harus demikian. Siapa mau dijajah?” ujar seorang nelayan.

Menanggapi berita penyerangan  Kerajaan Mataram tersebut, Prabu Siung Laut mengadakan rapat khusus yang dihadiri oleh Patih Jatasuro, Ario Bendung, Demang Panyarikan. Demang Kurantil dan lain- lain. Hal yang diperbincangkan terutama sikap menghadapi Kerajaan Mataram dan persiapan di bidang pertahanan. Ternyata tanggapan dari para patih membuat Prabu Siung Laut bangga karena para patih bersama laskarnya masing- masing merasa siap untuk memberikan pertahanan untuk membela Kerajaan Blambangan.

Baginda memerintahkan kepada Demang Panyarikan agar mengumumkan kepada seluruh Kerajaan Blambangan bahwa kerajaan dalam bahaya. Penjagaan pun ditingkatkan, senjata- senjata disiapkan.  Kepada Demang Kurantil, Baginda memerintahkan agar persediaan perbekalan mendapat perhatian. Kebutuhan pangan pun sudah diamankan. Semua itu aman penting dan merupakan pendukung kekuatan  kita untuk menghadapi musuh. Akhirnya setelah segala sesuati dipantau dan dibicarakan, para peserta sidang kembali dengan penuh semangat patriotism untuk membela Kerajaan Blambangan. Tampak Patih Jatasuro dengan langkah mantap meninggalkan tempat sidang. Tugas- tugas yang diberikan  Sang Prabu akan dilaksanakan sebaik mungkin, guna memikat hati raja. Dalam hati Patih Jatasuro ia berharap, sesudah memenangkan pertempuran dengan mencapai kemenangan , Sang Prabu mau menyerahkan Sedah Merah putrinya untuk dijadikan istri. Maklumlah, sebenarnya sudah lama Patih Jatsuro ingin mempersunting Sedah Merah. Akan tetapi ia tidak berani mengutarakannya secara terus terang. Patih Jatasuro berdoa kepada sang dewa agar terkabul segala harapannya. Berkali- kali ia membakar kemenyan dan mempersembahkan saji- sajian.

Nah, adik- adik, setelah beberapa hari mereka bersidang, rakyat dan pasukan Kerajaan Blambangan terkejut dengan kehadiran Blambangan terkejut dengan kehadiran pasukan Kerajaan Mataram.
“ Pasukan Mataram datang, pasukan Mataram datang!” demikian teriak orang- orang menyaksikab Pasukan Kerajaan Mataram memasuki Kerajaan Blambangan. Orang- orang berlarian ke sana – kemari. Patih Jatasuro segera menuju  istana Prabu Siung Laut. Kerajaan Mataram mengirimkan pasukan ke Blambangan di bawah pimpinan Juru Martani dan Mas Jolang, Juru Martani lalu menyampaikan surat kepada Sang Prabu Siung Laut yang isinya memberitahukan bahwa kedatangan mereka ke Blambangan adalah untuk menggalang persatuan. Untuk itu, Blambangan diminta untuk menyerah kepada Kerajaan Mataram tanpa syarat.

Setelah Kerajaan Blambangan berdiskusi tentang isi surat, akhirnya mereka setuju untuk melakukan perlawanan, seketika itu juga terjadi pertempurangan yang sengit. Anak panah bersimpang siur di udara. Gaduh riuh suara gertak dan jerit kesakitan, menggiring pertempuran itu. Tak ada belas kasihan dalam pertempuran itu. Mayat para pria pasukan bergelimpangan di sana-sini. Akhirnya pasukan Mataram tak kuasa menahan gempuran pasukan Blambangan, dan Juru Martani memberikan aba- aba untuk mundur kepada seluruh pasukannya. Mas Jolang, salah satu pimpinan pasukan Mataram lari menyelamatkan diri.

Tanpa disadari Mas Jolang justru lari ke arah istana Kerajaan Blambangan. Tiba- tiba tampak seorang gadis cantik jelita sedang membuka pintu hendak menuju ke taman untuk menikmati keindahan. Tak sengaja, empat mata saling bertemu, akhirnya mereka saling berkenalan. Mas Jolang diam dan termenung lalui ia ingat akan peristiwa peperangan yang sedang berkecamuk, dadanya mulai bergetar ketakutan dan mohon pamit hendak meninggalkan keputren. Tetapi sang putrid bersedia memberikan tempat persembunyian untuk Mas Jolang dan mereka diam- diam menjalin kasih. Lama- kelamaan Sang Prabu mengetahui perbuataan mengetahui perbuatan anaknya, dan mengancam akan membunuh Mas Jolangm tetapi Sedah Merah menghalangi dan mengaku sudah mengandung selama 3 bulan. Karena sayang terhadap anaknya, akhirnya Sedah Merah dinikahkan dengan Mas Jolang secara diam- diam.

Patih Jatasuro terkejut mendengar bahwa Sedah Merah telah dinikahkan dengan Mas Jolang.  Jatasuro ingin membunuh Mas Jolang tetapi Mas Jolang sudah pergi, lalu Jatasuro membunuh Sedah Merah dan memfitnah bahwa Sedah Merah telah dibunuh oleh Pasukan Mataram. Mendengar berita tersebut Ario Bendung ingin membunuh Juru Martani. Tetapi Juru Martani  menjelaskan bahwa yang membunuh Sedah Merah sebenarnya adalah  Jatasuro. Ario Bendung langsung mencari dan menghabisi Jatasuro. Sejak itu Ario Bendung mundur dari jabatan adipati dan pindah ke Karanganyar menjadi pandai besi. Banyak orang datang memesan  senjata, termasuk putra Sedah Merah, dan tanpa diketahui Putra Sedah Merah ternyata sudah lama membina kasih dengan Sekar, putrid Ario Bendung. Lalu mereka melangsungkan pernikahan. Dengan pernikahan itu penyatuan Mataram dengan Blambangan tidak menemui kendala lagi.

Untuk mendapatkan sesuatu sebaiknya kita berusaha dengan jujur. Bukan dengan caramemfitnah seperti yang dilakukan oleh Jatasuro. Cinta kasih yang suci bisa tumbuh di hati siapa saja, bahkan di hati pihak yang berselisih. Selesaikan perseteruan dengan cara damai.





Prabu Adidarma


D
ing – dong. Apa kabar adik- adik yang tercinta ? Kakak doakan sehat dan bahagia selalu. Kakak mau cerita. Kalian baca ya kisah ini… Dahulu kala ada sebuah kerajaan bernama Parangkencana, dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana, ia bernama Prabu adidarma. Sang Prabu memiliki sebuah suling wasiat bernama suling Kemayau. Bila suling ditiup, menjelmalah jin yang menakutkan dan suka menolong peniupnya. Tidak jauh dari Kerajaan Parangkencana, terdapat sebuah kerajaan bernama Mendangkamulan. Rajanya mempunyai seorang puteri cantik bernama Dewi Nawangwulan. Banyak raja- raja datang melamar Dewi Nawangwulan, tetapi tak satu pun diterima. Prabu adidarma berniat melamar Dewi Nawangwulan.
Di tengah malam hari, Prabu Adidarma meniup suling wasiat dan memerintahkan agar Jin jelmaan membawa Dewi Nawangwulan ke Kerajaan Parangkencana. Jin jelmaan suling wasiat segera melaksanakan perintah Prabu Adidarma.

“Bagus, tuan puteri sedang tidur nyenyak, akan kuangkat dia bersama tempat peraduannya,” kata Jin. Dewi Nawangwulan segera diangkat Jin dan dibawa langsung ke Istana Kerajaan Parangkencana, dan diletakkan di dalam sebuah kamar yang indah. Ia masih dalam keadaan tidur lelap. Betapa terkejutnya ketika ia bangun di pagi hari.

“Betapa indahnya kamar ini, mimpikah aku?” gumam Dewi Nawangwulan. Dalam keadaan penuh rasa heran. Tiba- tiba ia dikejutkan kedatangan seorang lelaki tampan dan gagah perkasa.
“Jangan takut. Aku bukan siluman. Aku yang memiliki istana ini,” kata Prabu Adidarma.
“Alangkah senangnya hati Kanda, jika Dinda bersedia menjadi permaisuri Kanda,” lanjutnya. Dewi Nawangwulan menyambut dengan senang hati.
Mendengar kesediaan Nawang Wulan untuk menjadi permaisuri itu, betapa gembiranya hati Prabu Adidarma. Sang Prabu menceritakan kesaktian sulung wasiat miliknya.
“Bolehkah Dinda pinjam?” pinta Dewi Nawangwulan. Tentu saja Prabu Adidarma tidak keberatan meminjamkan suling wasiatnya. Sang Prabu hanya berpesan suling wasiat tidak boleh ditiup. Mendengar larangan itu, Dewi Nawangwulan  malah menjadi penasaran. Suling wasiat segera ditiup. Dalam sekejap suling wasiat menjelma menjadi Jin yang menakutkan  dan berdiri hormat di depan Dewi Nawangwulan.

“Tolonglah bawa aku ke Kerajaaan Mendangkamulan,”pinta Dewi Nawangwulan. Dengan cepat Jin mengangkat Dewi Nawangwulan dan terbang ke istana Mendangkemulan. Prabu Adidarma melihat kejadian itu tampak pasrah. Prabu Adidarma memakai mahkota saktinya agar bisa menghilang. Ia terbang menuju ke istana Mendangkamulan menemui Dewi Nawangwulan. Sang  Prabu mengancam hendak membunuh Dewi Nawangwulan. Pada saat itu Dewi Nawangwulan terjaga dari tidurnya.
“Maafkan Gusti Prabu. Hamba telah berbuat salah. Bolehkan hamba melihat wajah Gusti Prabu?” kata Dewi Nawangwulan.
Prabu Adidarma menjadi lunak hatinya. Mahkota saktinya segera diperlihatkan kepada Dewi Nawangwulan. “Berkat kesaktian mahkota ini, Kanda bisa menghilang,”jelas Prabu Adidarma. Dewi Nawangwulan meminjam mahkota sakti tersebut lalu dipakainya. Seketika itu juga, Dewi Nawangwulan menghilang. Suling wasiat segera ditiupnya dan menjadi menjadi Jin.
“Buang Prabu Adidarma jauh- jauh ke hutan!” perintah Dewi Nawangwulan kepada Jin. Jin segera melaksanakan perintah Dewi Nawangwulan.

Prabu Adidarma berada di hutan belantara. Pada suatu hari, Prabu Adidarma menemukan sebatang pohon jambu berbuah lebat. Buah tersebut ada yang hijau dan ada yang merah.
“Betapa nikmatnya buah jambu itu,” gumam Prabu Adidarma. Ia segera memetik dua buah jambu berwarna hijau, lalu memakannya. Tetapi, apa yang terjadi ?Tiba- tiba kepalanya terasa gatal. Maka tak henti- hentinya menggaruknya. Aneh bin ajaib. Dua buah tanduk tumbuh di kepalanya. Alangkah sedihnya Prabu Adidarma. Tetapi, ia tidak berhenti makan jambu. Dipetiknya dua buah jambu berwarna merah. Setelah ia makan, tiba- tiba dua buah tanduknya hilang.
“Kalau begitu buah jambu berwarna hijau bisa mengeluarkan tanduk, sedangkan buah jambu berwarna merah dapat menghilangkan tanduk,” ujar Prabu Adidarma.

Prabu Adidarma berdaya upaya keluar hutan. Ia membawa bekal dua buah jambu berwarna  hijau dan dua buah jambu berwarna  merah. Maksud buah- buah jambu tersebut akan dipersembahkan kepada Dewi Nawangwulan. Setelah beberapa hari berjalan, Prabu Adidarma dapat keluar hutan lalu menuju istana Mendangkamulan. Di pintu gerbang istana, Prabu Adidarma bertemu dengan seorang Inang Pengasuh.
“Dua buah jambu berwarna hijau ini persembahkanlah kepada tuanmu,”pinta Prabu Adidarma kepada Inang Pengasuh. Inang Pengasuh segera mempersembahkan buah jambu berwarna hijau kepada Dewi Nawangwulan. “Hem, buah jambu segar sekali. Aku akan segera makan,” kata Dewi Nawangwulan. Ia segera makan dua buah jambu berwarna hijau itu. Tetapi aneh apa yang terjadi? Di kepalanya terasa gatal. Aneh bin ajaib. Lama kelamaan di kepala Dewi Nawangwulan tumbuh tanduk.

Ayah dan ibu Dewi Nawangwulan kalang kabut melihat kejadian yang dialami putrinya. “ Kumpulkan tabib seluruh negeri untuk mengobati puteriku!”perintah Sri Baginda Raja kepada Hulubalang. Berpuluh-puluh tabib datang berupaya menyembuhkan Tuan Puteri, tetapi tidak seorang pun berhasil. Bahkan tanduknya bertambah panjang. Akhirnya Sri Baginda mengumumkan sebuah sayembara. “ Barang siapa yang dapat menyembuhkan Tuan Puteri, kalau laki- laki akan diangkat menjadi suaminya dan akan mendapat hadiah kerajaan. Kalau wanita akan menjadi saudara kandung Tuan Puteri. “ Setelah sayembara diumumkan, berdatanganlah para raja atau pangeran dari berbagai negeri untuk mencoba keberuntungan. Namun, semuanya kembali dengan tangan hampa.
Di pagi yang cerah, datanglah seorang laki- laki yampan dan gagah perkasa berpakaian kumal. Ia adalah Prabu Didarma yang baru saja keluar dari hutan belantara. Ia mohon ijin hendak menghilangkan tanduk Tuan Putri. “ Perintahkan kepada orang berpakaian kumal itu mengahdapku !” perintah Sri Baginda Raja kepada Hulubalangnya. Prabu Adidarma segera menghadap Sri Baginda Raja Mendangkamulan.
“Kau harus berjanji, apabila tidak bisa menghilangkan tanduk puteriku, kau harus bersedia dipancung kepalamu,” tandas Sri Baginda Raja. Prabu Adidarma menyanggupi syarat itu. Prabu Adidarma segera mengambil dua buah jambu berwarna merah disimpannya. “ Hamba mohon, tuan Puteri makan dua buah jambu ini,” kata Prabu Adidarma. Setelah dua buah jambu berwarna merah itu diterima Dewi Nawangwulan, ia tidak segera makan. Karena ia kuatir, kalau makan jambu lagi tanduknya akan bertambah panjang. Prabu Adidarma menyakinkan tidak akan terjadi akibat apa pun. Apabila gagal, naywalah teruhannya. “Baiklah. Aku makan buah jambu ini,” kata Dewi Nawangwulan. Setelah selesai makan jambu itu, dua buah tanduk di kepala Dewi Nawangwulan tiba- tiba menghilang. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terkagum- kagum. Sri Bagina dan permaisurinya tampak lega. Dewi Nawangwulan berulang- ulang mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menolongnya. “Siapa nama tuan ? tanya Dewi Nawangwulan. “Nama Hamba, Prabu Adidarma dari Negeri Parangkencana,”jawab Prabu Adidarma.

Alangkah terkejutnya hati Dewi Nawangwulan mendengar nama orang itu. Ia langsung bersujud di hadapan Prabu Adidarma. Ia teringat akan dosa- dosanya yang telah berapa kali menipu Prabu Adidarma. Bukan main malu  dan menyesal hati Dewi Nawangwulan.
“Oh kanda ampunilah dosa Dinda,” kata Dewi Nawangwulan penuh penyesalan. “ Mulai saat ini Dinda berjanji menjadi istri yang setia,” katanya pula. Hari pernikahan mereka dirayakan meriah sekali.

S
uatu tindakan yangtak terpuji, akhirnya akan berbalas. Oleh karena itu hendaknya hindarilah tindakan atau perbuatan yang dapat merugikan orang lain. Mari kita kibarkan sikap jujur, terbuka dan mau menghargai orang lain sebagaimana mestinya.



Jaka Tole


“H
alo adik- adik. Bagaimana dengan nilai sekolah kalian ? Kakak harap kalian mengejar prestasi terbaik ya… Sebagai hadiahnya kakak mau bercerita. SIlahkan membacanya !”

Alkisah, di Pulau Madura ada sebuah desa, namanya Pakadhangan. Desa ini temasuk wilayah Kabupaten Sumenep. Seorang pandai besi sangat terkenal bernama Empu Kaleng. Empu Kaleng mempunyai seorang anak bernama Jaka Tole. Ayah kandung Jaka Tole adalah seorang raja yang bernama Adipeday. Ia sedang bertapa di gunung Gheger. Ibunya bernama Raden Ayu Pottre Koneng, bertapa du gung Pajhuddhan, wilayah Pamengkasan. Saat itu di Kerajaan Majapahit bertahta seorang raja bernama Sri Baginda Brawijaya. Ia memerintahkan membuat pintu gerbang besi yang besar dan megah. Empu Kaleng dipanggil untuk ikut melaksanakan perbuatannya. Ia pun berangkat ke Majapahit.

Pintu gerbang Majapahit sudah dikerjakan selama setahun tetapi belum selesai. Para pandai besi merasa terlalu lama mengerjakan gerbang itu. Empu kaleng pun jatuh sakit.
“ Jaka Tole, ayahmu sedang sakit. Berangkatlah segera ke Majapahit menengok ayahmu,”kata ibu Jaka Tole. Jaka Tole pun segera menyusul ayahnya di Majapahit. Pekerjaan di bengkel besi diserahkan kepada teman- temannya.
Setelah berjalan melewati beberapa desa, Jaka Tole memasuki sebuah hutan yang lebat. Di sana ia bertemu seseorang.
“Selamat datang Jaka Tole,” seru seseorang yang mengenakan ikat kepala dan jubah hitam. “ Jangan terkejut. Aku Adipeday, ayahmu,”tambahnya. Jaka Tole segera mencium tangan ayahnya. Ayah Jaka Tole menyampaikan bahwa membangun pintu gerbang besi Majapahit tidak mudah dan lama. Ia memberi bunga hutan yang harus di makan. Kelak akan keluar  pateri dari dalam pusar, setelah tubuh Jaka Tole dibakar. Bunga hitam itu diterima Jaka Tole dan dimakannya. Kemudian Jaka Tole meneruskan perjalanannya dan ditemani adiknya bernama Agus Dewi.

Adik- adik, kedua bersaudara ini berjalan beriringan. Mereka asyik berbicara tetapi selalu waspada jika ada ancaman bahaya. Perjalanan mereka menuju pantai untuk menyebrangi selat Madura. Ketika tiba, betapa senangnya mereka melihat perahu. Sang nakhoda memerintahkan awak perahu untuk menyiapkan segalanya, namun ia tidak suka Jaka Tole naik perahunya. Karena itu ia berbohong dengan menyatakan perahu sudah penuh.
Ternyata perahu itu tidak bisa berlayar, karena kesaktian Jaka Tole. Setelah akhirnya Jaka Tole dan Agus Dewi diperkenankan naik perahu, barulah perahu itu dapat belayar. “ Oh, maafkan aku telah membuat susah kalian,”ujar nakhoda. Namun Jaka Tole tidak mempermasalahkan itu.

Daratan Pulau Jawa telah nampak. Perahu segera merapat ke dermaga. Jaka Tole dan Agus Dewi mengucapkan terima kasih kepada nakhoda. Tibalah mereka di kota Gresik. Di alun- alun, keduanya di dekati oleh seorang laki- laki. Ia seorang Perdana Mentero yang diperintahkan untuk mencari kedua pemuda itu. “Kalian tentunya pemuda yang dalam impia raja Gresik,” kata Perdana Menteri itu. Raja Gresik sangat gembira hatinya melihat kedatangan kedua anak muda itu. Keduanya dianggap anaknya sendiri. Setelah beberapa hari mereka tinggal, Jaka Tole mohon diri untuk menengok ayahnya yang sedang sakit. Sedang Agus Dewi tetap tinggal di istana, dan kelak akan dinikahkan dengan Puteri kerajaan dan bertakhta menjadi raja di Gresik.

Akhirnya Jaka Tole sampai di Majapahit. Ia bertemu dengan Empu Kaleng. Mereka saling melepa rindu. Sementara itu, sang Raja Brawijaya kecewa karena pintu gerbang belum beres. “Saya minta laporan kenapa pekerjaan kalian belum siap?”sabda sang Raja. Semua pandai besi terdiam. “ Kalian harus bekerja kerasw agar besok pagi bisa selesai,” sabdanya lagi. Ketika melihat ada anak muda sang raja bertanya, “ Hai, siapa kamu anak muda ?” Hamba Jaka Tole, anak Empu Kaleng,”Kata Jaka Tole sambil menyembah. Ia menerangkan, hendak membantu ayahnya. Ia menyanggupi menyelesaikan pintu gerbang dalam satu malam termasuk dihukum berat , bila tidak menepati janji.

Empu Kaleng merasa seperti disambar petir mendengar kesanggupan Jaka Tole. Bila tidak berhasil , pastilah Jaka Tole akan menerima hukuman berat. Sesudah di tengah hari, Jaka Tole ke tempat pembangunan pintu gerbang. “Bapak- bapak sekalian. Aku mempunyai pateri yang sangat hebat. Bakarlah badanku. Dari dalam pusarku akan keluar pateri. Jika sudah keluar paterinya, rendamkan badanku ke dalam kolam. Badan Jala Tole dibakar dengan kayu. Keluarlah benda cair putih dari pusarnya. Bagian- bagian pintu gerbang yang indah dan megah selesai dalam satu malam.

Raja Brawijaya sangat gembira menyaksikan pintu gerbang itu. Para pandai besi mendapat hadiah. Sedang Jaka Tole menerima hadiah paling besar  berupa perhiasan emas dan perak. Empu Kaleng segera pulang ke Madura. “ Tolong bawalah semua hadiah dari Raja untuk ibu di rumah,”kata Jaka Tole. “ Saya akan tetap tinggal di Majapahit “. Raja Brawijaya sangat berterima kasih terhadap  Jaka Tole. I a diangkat menjadi Menteri Muda. Namanya diganti menjadi Menteri Kodapanole.

Pada suatu kali, salah seorang Bupati dari Blambangan memberontak Raja Brawijaya. “Kau diperintahkan meredam perlawanan Bupati Blambangan,” perintah Raja  kepada Kodapanole. Lalu Kodapanole memimpin pasukan menuju Blambangan . Ternyata Bupati Blambangan telah melarikan diri ke hutan. Raja Brawijaya semakin menaruh kepercayaan kepada Menteri Kodapanole. Ia dinikahkan dengan Puteri Raja. Perayaan pernikahan berlangsung meriah.

T
idak lama kemudian, Menteri Kodapanole memohon pulang ke Madura. Ia memerintah sebagai Bupati Sumenep. Ia sangat dicintai rakyatnya. Ayah angkatnya, Empu Kaleng diajak untuk tinggal di Kabupaten. “ Aku ingin membangun desa,”kata Empu Kaleng menolak halus ajakan Bupati Sumenep itu. Empu Kaleng dan istrinya tetap tinggal di desa. Pada suatu hari menteri Kodapanole sakit keras. Akhirnya ia meninggal dunia. Rakyatnya berkabung. Jenazah menteri Kodapanole dimakamkan di desa Lanjhuk, sebuah desa yang tidak jauh dari kita Sumenep.

Nah, adik- adik. Cerita ini intinya adalah :
Berkat kegigihan, keuletan dan kejujuran, Joko Tole dipercaya oleh Raja Brawijaya. Ia berjasa dan juga orang yang menepati janji. Kita contoh perbuatan baiknya ya…





Joko Kendil


P
ada jaman dahulu, ada seorang janda miskin tinggal di sebuah desa terpencil, ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bentuk tubuhnya meyerupai periuk untuk menanak nasi. Di daerah Jawa Tengan, periuk untuk menanak nasi itu disebut kendil. Karena anak laki- laki itu menyerupai kendil, maka ia dikenal dengan nama Joko Kendil.

Meskipun ibu Joko Kendil mempunyai anak seperti kendil, namun ia tidak pernah menangisi nasibnya. Justru ia sangat menncintai Joko Kendil.
Ketika masih kecil, Joko Kendil seperti anak-anak seusianya. Ia sangat jenaka, sehingga disenangi teman-temannya. Ia pun sering memanfaatkan bentuk tubuhnya untuk memperoleh keuntungan.  Pada suatu hari, di tetangga desanya, ada sebuah pesta perkawinan. Dengan diam-diam Joko Kendil menyelinap ke dapur.
“Aduh, ada kendil bagus sekali. Lebih baik untuk tempat kue dan buah-buahan ini, kata seorang ibu sambil memasukkan kue-kue dan buah-buahan ke dalam kendil yang sebenarnya adalah Joko Kendil. Setelah penuh, Joko Kendil menggelinding perlahan-lahan.
“Kendil ajaib ! Kendil ajaib !” teriak orang-orang yang melihat kejadian itu. Karena mereka ingin memiliki kendil itu, akhirnya mereka saling berebut. Namun Joko Kendil dengan cepat menggelinding dan pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumah Joko Kendil langsung menghadap ibunya.
“Dari mana kau dapat kue dan buah-buahan ini ?” tanya ibu Joko Kendil dengan penuh keheranan. Joko Kendil menceritakan apa yang dialaminya. Kue- kue dan buah-buahan itu bukan hasil curian, melainkan pemberian ibu – ibu di dapur di suatu pesta perkawinan. Mereka mengira Joko Kendil adalah kendil yang bagus dan indah, lebih tepat untuk menyimpan kue dan buah-buahan, dari pada digunakan menanak nasi.

Demikianlah yang dialami Joko Kendil. Tahun demi tahun, Joko Kendil bertambah umur dan semakin dewasa. Namun, bentuk tubuhnya masih tetap seperti kendil. Di suatu pagi yang cerah, Joko Kendil mengutarakan keinginannya untuk segera menikah. Ibunya sangat kebingungan. Apalagi Joko Kendil ingin menikah dengan seorang Putri Raja.
“Apa keinginanmu itu tidak keliru, anakku? Engkau anak orang miskin, bentuk tubuhmu seperti kendil. Mana mungkin putrid Raja mau menikah denganmu ?”kata ibunya. Mendengar kata- kata ibunya, Joko Kendil tetap mendesak ibunya agar segera melamar seorang Putri Raja. Pada hari yang telah ditentukan, ibu Joko Kendil pergi ke kota menghadap raja untuk menyampaikan permintaan anaknya.

Konon, raja mempunyai tiga orang putrid yang cantik- cantik. Ketika ibu Joko Kendil berhasil menyampaikan maksud dan tujuannya untuk melamar seorang dari ketiga putrid raja, raja menerima dengan senang hati. Tetapi, raja harus menanyakan dulu kepada ketiga putrinya, Dewi Kantil, Dewi Mawar dan Dewi Melati, apa mereka bersedia menerima lamaran Joko Kendil.
“Ayahanda, saya tidak sudi menikah dengan Joko Kendil anak desa yang miskin itu,”jawab Dewi Kantil.
“Saya pun tidak menerima lamaran Joko Kendil buruk rupa itu. Saya ingin menikah dengan seorang Putera Mahkota yang kaya raya,” jawab Dewi Mawar.
“Ayahanda, saya menerimanya dengan sepenuh hati,” jawab putri bungsu, Dewi Melati.

Mendengar jawaban Dewi Melati yang sangat aneh itu, raja tertegun sejenak. Raja tidak mengerti  apa yang mendorong Dewi Melati memilih Joko Kendil sebagai suaminya. Namun sebagi seorang raja yang sangat bijaksana, harus selalu menepati janji.
“Aku merestuimu, anakku,” kata raja kepada Dewi Melati. Keputusan Dewi Melati itupun langsung disampaikan kepada ibu Joko Kendil. Karena sudah menjadi kesepakatan, maka perkawinan Joko Kendil dan Dewi Melati segera dilansungkan.
Joko Kendil resmi menjadi suami Dewi Melati. Mereka hidup bahagia. Namun di balik itu hampir setiap Dewi Melati menerima ejekan atau cemohan dari kedua kakaknya.
“Lihat suami Melati, jalannya menggelindig seperti bola. Lebih baik untuk bermain sepak bola,”kata Dewi Kantil ketus.
“Wajahnya jelek, tubuhnya tak berbentuk. Hih, kalau aku lebih baik dibuang di tempat sampah!”kata Dewi Mawar sambil mencibir. Walaupun selalu dihina, namun Dewi Melati tetap tabah dan penuh kesabaran.

Pada suatu hari, Raja mengadakan perlombaan ketangkaan dan ketrampilan menggunakan alat-alat senjata berkuda. Seluruh kerajaan menyaksikan perlombaan tersebut. Akan tetapi Joko Kendil tidak terlihat di arena perlombaan tersebut karena sakit. Saat itu, Dewi  Melati duduk sendirian.
“Hore ! Hore !”teriak penonton. Para panglima dan pangeran memperlihatkan keahlian dan ketangkasan menggunakan alat- alat senjata dan berkuda.
Di tengah- tengah perlombaan yang sedang berlangsung seru, tiba- tiba penonton dibuat terpesona melihat kedatangan seorang kesatria tampan dan gagah perkasa. Dewi Kantil dan Dewi Mawar segera tertarik hatinya. Dan tak lupa meluncurkan ejekan-ejekan pedas kepada Dewi Melati.
“Kau dungu! Bodoh! Memilih Joko Kendil buruk rupa itu menjadi suamimu!”kata Dewi Kantil.
“Kesatria tampan itu pantas menjadi suamiku,’sambungnya.
“Kau rugi! Buntung! Kau terburu nafsu kawin dengan si jelek itu !” ejek Dewi Mawar sambil mencibir yang ditujukan kepada Dewi Melati. Dewi Malati langsung meninggalkan tempat pelombaan dan masuk kamarnya dengan penuh kesedihan.

Ketika Dewi Melati masuk kamar, ia melihat sebuah kendi dalam keadaan kosong. Ia langsung menghancurkan kendi itu.
“Huh, kendil ini membuat aku kecewa dan sedih. Lebih baik aku hancurkan !” teriak Dewi Melati sambil menghancurkan kendil itu. Seketika itu juga tampak dihadapan Dewi Melati seorang kesatria dan gagah perkasa, berpakaian gemerlapan bagaikan seorang raja. Dia adalah Joko Kendil. Joko Kendil menjelaskan  bahwa tubuhnya berbentuk kendil, karena kehendak dewata. Dan  dapat berubah menjadi kesatria, apabila ada seorang putrid raja yang rela bekorban kawin dengannya.
Mendengar hal itu Dewi Melati hatinya berbunga- bunga. Apa yang yang dialami Dewi Melati itu menjadikan Dewi Kantil dan Dewi Mawar sangat iri.

D
ongeng Joko Kendil ini menjelaskan kepada kita bahwa kita tidak boleh menghina orang lain yang bernasib buruk. Kita harus dapat menghargai orang lain yang sedang menderita dan sengsara. Kita harus respek terhadap orang lain.


Mandin Tangkaramin


A
dik- adik, pernahkah kalian mengunjungi Propinsi Kalimantan Selatan  ? Di sana terdapat Desa malimau yang terletak di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tidak jauh dari desa itu, terdapat sebuah air terjun bernama Mandin Tangkaramin. Air terjun tingginya kurang lebih tiga belas meter. Menurut penduduk  di sana air terjun Mandin Tangkaramin menyimpan kejadian yang luar biasa. Konon, dahulu kala ada dua orang pemuda saling mengadu kekuatan. Mereka bernama Bujang Alai dan Bujang Kuratauan. Adapun kedua pemuda itu masing – masing memiliki kelebihan dan maupun kekurangan.
Bujang Alai adalah pemuda  tampan dan gagah perkasa. Namun, ia congkak dan mau menang sendiri, ia merasa unggul segala- galanya. Apalagi ia anak orang kaya. “ Siapa berani melawanku? Ayo maju!” Begitu kata Bujang Alai, setiap melihat orang yang membahayakan dirinya. Ia selalu tak ketinggalan menyelipkan keris Naga Api dipinggangnya. Sering terjadi Bujang Alai menyiksa orang yang tidak tahu letak kesalahannya.
Sedangkan Bujang Kuratauan adalah seorang pemuda sederhana. Sikap dan tutur katanya sopan, selalu menghormati dan menghargai  orang lain. Betapapun  ia anak orang tak mampu , namun mempunyai jiwa sosial yang tinggi. “ Besok kalau kau sudah besar, ikuti teladan Bujang Kuratauan itu,” kata seorang ibu kepada anaknya yang masih kecil.
“Ia cepat kaki dan ringan tangan, suka menolong orang yang sedang menderita,” lanjutnya. Dengan demikian Bujang Kuratauan dijadikan teladan atau panutan bagi orang lain. Untuk menjaga keselamatan dirinya, Bujang Kuratauan selalu membawa parang bungkul yang diselipkan dipinggangnya.

Pada suatu hari, desa tempat tinggal kedua pemuda itu gempar. Kenapa? “Tlonglah, nak. Carilah anakku  sampai ketemu,” pinta ayah gadis kepada Bujang  Kuratauan. Bujang Kuratauan langsung terusik hatinya. Ia berdaya upaya untuk menemukangadis yang hilang itu. “Hem, apakah gadis yang hilang itu dilarikan Bujang Alai?” gumam Bujang Kuratauan. “Kalau benar itu terjadi, berarti Bujang Alai telang mencoreng- coreng kampong yang damai ini ,”ungkapnya.
“Aku harus dapat menemukan gadis itu segera !”tekad Bujang Karatauan menyala-nyala.

Bujang Alai mendengar bahwa Bujang Kuratauan hendak menyelidiki dan mengungkapkan raibnya gadis desa itu. Bujang Alai menyombongkan diri bahwa dialah yang telah berhasil menculik gadis dari orang tuanya tanpa ada orang yang tahu. Bujang Alai pun bersuara lantang.
“Akulah yang menculik gadis itu, langkahi dulu mayatku!” Tanpa bersusah payah  mengadakan pencarian, Bujang Kuratauan telah mengetahui bahwa perbuatan terkutuk itu dilakukan Bujang Alai.

Bujang Kuratauan dengan gagah berani menuju rumah Bujang Alai. Ia hendak menjemput  gadis yang diculik Bujang Alai itu dengan cara damai. Namun, apa yang terjadi?
“Sebelum, kau berhasil mengambil gadis itu, terimalah ujung kerisku!” tantang Bujang Alai sambil menghunus keris Naga Api. Dalam sekejap keris Naga Api langsung ditikamkan ke dada Bujang Kuratauan. Bujang Kuratauan menghindar dengan kecepatan tinggi, sehingga keris Naga Api menembus udara. Melihat keadaan itu, Bujang Alai bertambah panas.  
“Sudahlah, kita tak perlu berkelahi. Kita sama- sama saudara, kan malu dilihat orang,”kata Bujang Kuratauan.

Mendengar ucapan Bujang Kuratauan itu, Bujang Alai bukan dingin hatinya, tetapi malah menjadi panas membara. “ Aku tidak mau diremehkan dan direndahkan ! Apalagi kau menghinaku ! Ayo adu kekuatan! Adu senjata !” tantang Bujang Alai, sambil memainkan kerisnya dengan angkuhnya. Bujang Kuratauan menjawab tantangan dengan penu kesabaran. Ia keluarkan parang bungkul dari sarungnya.
“Parang Bungkul ! Lemparkan saja ke sampah !. Ejek Bujang Alai, melihat  senjata Bujang Kuratauan. Parang bungkul adalah senjata tradisonal orang Banjar. “ Gunakan senjatamu, kalau kau benar- benar seorang lelaki!” tantang Bujang Alai. Bujang Kuratauan hanya tersenyum, tetapi parang bungkul telah siap ditangannya.

Bujang Alai tidak senang melihat sikap Bujang Kuratauan yang telah meremehkannya itu.. Seketika itu juga Bujang Alai langsung menyerang Bujang Kuratauan.
“Terimalah keris saktiku!” seru Bujang Alai sambil melompat dan langsung menerjang Bujang Kuratauan. Keris Bujang Alai dengan bertubi- tubi diarahkan ke dada Bujang Kuratauan, tetapi tidak ada yang mengenai sasaran. Dengan gesit Bujang Kuratauan menghindar. Bahkan sebenarnya BUjang Kuratauan bisa menangkis serangan dan merebut keris Bujang Alai, tetapi ia tidak mau melakukannya. Namun setelah beberapa lama pertarungan berjalan, Bujang Kuratauan sesekali membalas serangan dengan parang bungkulnya.

Hasil dari pertarungan kedua pemuda itu ternyata tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. “Sekarang kita lanjutkan perkelahian kita di Mandin Tangkaramin,” tantang Bujang Alai.
“Setuju,” jawab Bujang Kuratauan.
Kemudian mereka menuju air terjun yang bernama Mandim Tangkaramin. Mandin artinya terjun. Karena di daerah Tangkaramin, maka disebut Mandin Tangkaramin. Pertarungan pun berlangsung dengan seru. Namun, kedua orang itu tidak ada yang terluka. Tetapi, hantaman parang bungkul  Bujang Kuratauan  ada beberapa yang mengenai dada Bujang Alai. Memang di bagian luar atau kulit tidak ada yang tergores sedikitpun. Tetapi, di bagian dalam tubuh Bujang Alai remuk, dan akhirnya meninggal dunia.

Pihak keluarga Bujang Alai menuntut balas. “Kita harus cari siasat! Jika nanti keluarga Bujang Alai menyerang, kita langsung lari menuju Mandin Tangkaramin,”kata Bujang Kuratauan kepada anggota keluarganya. Benar, malam kelam itu keluarga Bujang Alai menyerang pihak keluarga Bujang Kuratauan. Mereka langsung melarikan diri dengan membaa obor.
“Cepat jatuhkan obor di air terjun Mandin Tangkaramin,” perintah Bujang Kuratauan. Rombongan Bujang Alai langsung mengikuti kea rah jatuhnya obor- obor itu. Mereka mengira rombongan Bujang Kuratauan memotong jalan. Akhirnya rombongan Bujang Alai terjatuh di air terj\un Mandin Tangkaramin. Darah mereka mengucur dan jatuh di bebatuan. Bebatuan menjadi merah, semerah kulit manggis. Penduduk di sana menyebutnya Batu Manggu Masak.

C
epat kaki, ringan tangan dan rela berkorban adalah perbuatan terpuji. Sedangkan sikap yang hanya memamerkan kekuatan maupun kekayaan merupakan perbuatan yang tercela. Demikianlah adik- adik cerita ini kakak akhiri…